Sowan ke Basecamp M16, Karo Humas NTB Minta Maaf

0

Mataram. Radio Arki – Karo Humas dan Protokol Pemprov NTB, Najamuddin Amy berkunjung ke Sekretariat M16, Jumat malam (2/8), bertemu langsung dengan Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto.

Najamuddin didampingi PLH Karo Humas Heri Agustianto, disambut Bambang Mei dan sejumlah pentolan M16. Pertemuan membahas kisruh “busana Gubernur NTB” yang sempat mencuat dan jadi polemik publik.

Pertemuan informal itu dihadiri pula
sejumlah aktivis M16 dan aktivis lain seperti M Fihiruddin, Taufik Hidayat, Budi Wawan, Daro Jatun, Suci Makbullah. Setelah Najam pulang baru tiba Abdul Majid, Zainul Pahmi dan Erwin.

Membuka pertemuan Najamuddin menyampaikan, apresiasi pada jajaran M16 yang sudah bersedia membuka ruang diskusi dan musyawarah menyikapi polemik busana Gubernur NTB.

Najam mengaku tak menyangka dampak artikel yang ia share di grup WA Humas Pemprov NTB dan dikutip media massa akhirnya memicu polemik.

“Kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Tidak ada maksud seperti itu dan tidak terbersit sama sekali menyinggung banyak pihak termasuk M16,” kata Najam.

Najamuddin memaparkan, artikel “Seberapa Penting Menyoal Gaya Busana Gubernur NTB?” bukan karya dia. Ia hanya menshare sebagai bahan referensi untuk memperkaya wawasan insan media di grup WA Humas Pemprov NTB.

Namun, menurutnya, tetap ada hikmah dalam kejadian ini, karena dirinya bisa membuka silaturahim dengan M16, sebuah lembaga sosial politik yang selalu kritis dan konstruktif mengawal dan menyoroti pembangunan NTB.

“Saya harap ini menjadi pertemuan yang mempererat hubungan dan menjadi wadah komunikasi yang sama sama memberikan manfaat,” tukasnya.

Sementara Direktur M16 Bambang Mei Finarwanto mengatakan, kunjungan Najamuddin merupakan bentuk penghormatan bagi M16.

Pria humble yang akrab disapa Didu ini menegaskan, M16 bisa memahami miskomunikasi yang terjadi dan sempat menimbulkan polemik publik.

“Pertemuan ini sebagai bentuk penghormatan untuk M16,” tegasnya.

Didu menegaskan, M16 menerima permintaan maaf Najam dengan lapang dada.

M16, papar Didu, mengritisi kebijakan Pemprov NTB dengan kritik yang konstruktif dan berbasis fakta dan data.

“Pak Najam sudah datang dan menyampaikan maaf atas miskomunikasi ini, saya rasa itu sudah cukup,” katanya.

Didu mengingatkan bahwa dalam kritiknya M16 tidak “berjualan karcis” dan tidak memberi peluang pihak mana pun untuk memancing ikan di air keruh.

“M16 tidak butuh apa-apa, kami kritis untuk kebaikan NTB bersama. Jadi kalau ada oknum mengatas namankan M16 dan meminta sesuatu atau jual karcis dalam polemik ini jangan digubris,” tukas Didu di hadapan Najamuddin. (M Arif. Radio Arki)

Leave A Reply