NEWS

UTS–Norwegia Dorong Kakiang Jadi Pusat Pengelolaan Lahan Kering Berkelanjutan

Keterangan : Haryadi, dosen UTS yang terlibat langsung dalam pelaksanaan program. (Sumber. Arki)

Sumbawa. Radio Arki — Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) melanjutkan komitmennya dalam pengembangan lingkungan berkelanjutan melalui kegiatan pemanfaatan lahan kering di Desa Kakiang, Kecamatan Moyo Hilir. Program ini merupakan bagian dari inisiatif nasional Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 yang mendapat dukungan Pemerintah Norwegia dan melibatkan berbagai pihak di tingkat lokal maupun nasional.

Kegiatan yang berlangsung di Blok Toan Desa Kakiang pada Rabu (11/11/2025) dibuka dengan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengelola lahan kering dengan menanam jenis tanaman yang dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Melalui pendekatan ini, UTS menekankan bahwa lahan kering memiliki potensi besar bila dikelola secara tepat dan berkelanjutan.

“Kegiatan kami dimulai hari ini dengan diawali edukasi urgensinya produktifkan lahan kering dengan tanaman produktif. Jenis tanaman yang kami tanam seperti alpukat, kemiri, pisang, dan tanaman produktif lainnya. Kegiatan ini dimulai dengan pembersihan lahan, pembuatan lubang, penanaman, dan akhirnya pemeliharaan,” ungkap Sofyan Haryadi, dosen UTS yang terlibat langsung dalam pelaksanaan program, melalui rilisnya kepada media ini, Jumat 14 November 2025 siang tadi.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui hasil pertanian, tetapi juga berperan penting dalam upaya nasional menurunkan emisi karbon. Pengelolaan lahan secara berkelanjutan dinilai sebagai strategi kunci untuk mendukung tercapainya target net sink pada 2030.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Dewan Kehutanan Nasional (DKN). Jasardi Gunawan, perwakilan Presidium DKN, menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya kegiatan tersebut. “Kami mengapresiasi program ini yang sangat luar biasa, terutama dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Kabupaten Sumbawa,” ujarnya.

FOLU Net Sink 2030 sendiri merupakan komitmen Pemerintah Indonesia untuk memastikan sektor kehutanan menjadi penyerap karbon bersih paling lambat pada tahun 2030. Program ini menekankan pentingnya rehabilitasi lahan kritis, peningkatan peran masyarakat dalam menjaga kawasan hutan, serta pengembangan ekonomi hijau berbasis potensi lokal seperti tanaman produktif dan ekowisata. Norwegia menjadi salah satu mitra terpenting dalam upaya ini dengan memberikan dukungan pendanaan, pendampingan teknis, serta transfer pengetahuan di bidang lingkungan dan perubahan iklim.

Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat, Desa Kakiang diharapkan dapat berkembang menjadi model pengelolaan lahan kering berkelanjutan di wilayah Nusa Tenggara Barat. UTS optimistis bahwa pola pengelolaan yang dikembangkan di Kakiang dapat direplikasi di daerah lain sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan lingkungan yang lebih baik.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi berperan aktif dalam mendukung program nasional dan global untuk keberlanjutan lingkungan,” tutup Sofyan Haryadi. (Admin01. Radio Arki)

Related posts

Survey Akreditasi RSUD Asy-Syifa’ Sumbawa Barat Mulai Dilakukan

ArkiFM Friendly Radio

Beredar Vidio Tindakan Refresif Brimob Dalam Penanganan Massa Aksi di PT AMNT

ArkiFM Friendly Radio

Tanamkan Nilai Antikorupsi Sejak Dini, Kejari Sumbawa Barat Gelar Kampanye Gandeng Ketua OSIS SMPN

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page