Keterangan poto : suasana pelatihan pengelolaan sampah di desa Pasir Putih, kecamatan Maluk. (sumber. arki)
Maluk. Radio Arki – Upaya menciptakan lingkungan bersih dan sehat terus digalakkan melalui berbagai pendekatan edukatif oleh Kuli Farm, salah satu kelompok pengelola sampah di Desa Benete Kecamatan Maluk. Kini edukasi itu dilakukan dengan berkolaborasi bersama pemerintah desa Pasir Putih, kecamatan Maluk yaitu kegiatan pelatihan pengelolaan sampah organik dengan sasaran warga desa setempat.
Menurut, ketua kelompok Kuli Farm, Alimuddin kegiatan edukasi ini merupakan program rutin yang dilakukan kelompok pengelolaan lingkungan yang telah dirintisnya. Selain di masyarakat desa, edukasi dan kemitraan juga dibangun olehnya dengan hotel yang ada di daerah setempat, sebut saja salah satunya adalah dengan Hotel Kirana, di kecamatan Sekongkang.
“Maluk ini daerah industri dan sekaligus sebagai daerah wisata. Maka penting sekali pelatihan seperti ini, karena kita tidak ingin sampah menjadi masalah serius di kemudian hari. Apalagi sebagai daerah industri dan wisata jangan sampai Maluk dikenal sebagai kawasan yang kumuh dan tidak memperhatikan aspek lingkungan. Untuk itu kami berupaya berkolaborasi dengan pemerintah desa,” terangnya melalui rilis yang diterima media ini, Kamis 17 Juli 2025 malam tadi,
Sebenarnya sampah dapat menjadi sumber pendapatan alternatif, lanjut Ali. Tetapi masyarakat secara luas masih banyak yang belum mengetahui tentang bagaimana mengelolah sampah sehingga dapat menghasilkan cuan. Untuk itu dalam edukasi tersebut, Alimuddin banyak memaparkan tentang bagaimana mengelolah sampah menjadi media budidaya Magot (ulat) dan menjadikan bahan sampah menjadi barang ekonomis lainnya.
“Alhamdulillah, kini mereka (warga desa) sudah banyak yang mulai memahami bagaimana memulai budidaya maggot. Itu sangat menjanjikan!,” tukasnya.

lebih lanjut, Alimuddin juga menyinggung kondisi tata kelola persampahan di Kecamatan Maluk yang dinilai belum ideal dan masih jauh dari amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Padahal jika mengikuti standarisasi pengelolaan sampah, maka itu bisa menjadi daya dukung untuk menjadikan kawasan industri itu sebagai model atau contoh dan menjadi Sumbawa Barat sebagai kawasan industri yang bebas sampah.
“praktik open dumping (terbuka) itu sudah tidak boleh. Setahu saya pemerintah daerah belum lama ini juga dapat teguran. Tapi hingga kini TPA Maluk masih menggunakan sistem itu. Padahal Maluk merupakan kawasan industri yang semestinya memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan bertanggung jawab,” ungkapnya
Ia pun berharap, melalui pelatihan tersebut diharapkan akan semakin menguatkan kesadaran kolektif bagaimana agar pengelolaan sampah bisa menjadi budaya warga desa di kecamatan Mauk. Karena dengan sistem yang dipraktekkan saat ini yaiut yang hanya mengandalkan ‘jemput, angkut, dan buang’ hanya memindahkan masalah lingkungan dari satu titik ke titik lainnya. Untuk itu diperlukan kerja kolaboratif antara rumah tangga, komunitas, akademisi, sektor swasta hingga pemerintah agar tata kelola sampah bisa dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“budidaya maggot ini merupakan salah satu metode praktis pengelolaan sampah yang bisa diterapkan di skala rumah tangga. Selain mengurangi beban TPA, metode ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” demikian, Alimuddin (Admin01. Radio Arki)
