NEWS

Bedah Film Silat Tani, Krisis Pertanian KSB Jadi Sorotan

Sumbawa Barat. Radio Arki – Komunitas Literasi Anokbongan bersama pemuda Desa Banjar, Sabtu 13 September 2025 lalu menggelar bedah film dan diskusi menyambut Hari Tani Nasional.

Film “Silat Tani” karya Dandy Laksono yang diputar dalam kegiatan ini menyoroti berbagai persoalan petani, mulai dari harga gabah yang anjlok, pupuk yang mahal, hingga kesejahteraan petani yang masih jauh dari harapan.

Diskusi ini menghadirkan para pemantik dari kalangan birokrat dan akademisi, diantaranya adalah, Mustakim, Apriadi, Doniyanto. Sejumlah narasumber itu mengaitkan isi film dengan situasi nyata di Sumbawa Barat, yang meski pertanian menjadi salah satu sektor penopang ekonomi, namun masih diwarnai beragam persoalan. Mulai dari harga gabah yang kerap jatuh, masalah irigasi seperti di Desa Banjar, hingga ketidaktepatan bantuan pemerintah bagi petani.

Salah satu isu penting yang mencuat adalah rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Banyak anak muda, termasuk lulusan fakultas pertanian, lebih memilih bekerja di tambang karena dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Padahal, tambang adalah sumber daya yang terbatas dan akan habis dalam beberapa dekade mendatang.

“Pertanian adalah sektor vital yang tak boleh diabaikan. Kalau terus bergantung pada tambang, maka suatu saat kita akan kehilangan penopang ekonomi daerah. Karena itu pertanian harus diperkuat,” ungkap Mustakim, salah satu pemantik diskusi.

Sementara itu, sekretaris Sahabat Bumi, Doniyanto menegaskan bahwa akar persoalan petani berada di dua sisi yaitu hulu dan hilir. Di hulu, persoalan meliputi tingginya biaya produksi pra-panen seperti pupuk yang kerap langka, serta bantuan pemerintah yang dinilai tidak tepat sasaran. Di hilir, masalah utama adalah harga gabah yang sering anjlok sehingga membuat petani merugi.

Salah satu solusi menarik yang mengemuka adalah mendorong lahirnya industri pengolahan hasil pertanian di Sumbawa Barat, khususnya gabah. Dengan demikian, gabah tidak hanya dijual mentah ke luar daerah, tetapi diolah menjadi beras siap konsumsi, sehingga memberi nilai tambah ekonomi bagi petani.

Doniyanto juga mengungkapkan, bantuan yang menjadi program pemerintah daerah untuk petani, perlu dibuat lebih transfarans dan dievaluasi. Mengingat sejumlah program tersebut memang sudah pernah diberikan, untuk itu perlu dipertegas penerima bantuan sebelumnya agar tidak terjadi penerimaan ganda.

“Evuluasi dulu program sebelumnya,” tegasnya.

Kegiatan ini bukan sekadar peringatan seremonial Hari Tani Nasional, melainkan langkah awal untuk mengawal isu-isu pertanian di daerah. Bersama pemuda Desa Banjar, mereka berkomitmen melanjutkan advokasi dan mendorong kebijakan yang berpihak pada petani Sumbawa Barat. (Admin01. Radio Arki)

Related posts

Transaksi Narkoba di KTC, Seorang Pelajar Ditangkap

ArkiFM Friendly Radio

drg. Hanif Nur Rasyid, Sp.KG, FICD Raih Penghargaan Bergengsi dari International College of Dentists

ArkiFM Friendly Radio

Jelang Penerapan Aplikasi Srikandi, Arpus KSB Gelar Bimtek

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page