Sumbawa Barat. Radio Arki — Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (Pemda KSB) menargetkan pelaksanaan Medical Check Up (MCU) bagi seluruh karyawan tambang dilakukan 100 persen di RSUD Asy-Syifa’ Sumbawa Barat.
Kebijakan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas layanan kesehatan daerah sekaligus mendorong kontribusi nyata sektor pertambangan terhadap pembangunan kesehatan di KSB.
Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Sumbawa Barat melalui Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, dr. Carlof. Ia menyampaikan bahwa pelaksanaan MCU secara penuh di RSUD Asy-Syifa’ akan dipersiapkan secara matang dengan standar profesional.
“Bupati Sumbawa Barat sangat tegas menyampaikan bahwa MCU harus 100 persen dilakukan di RSUD Asy-Syifa’ Kabupaten Sumbawa Barat. Semua akan kita persiapkan dengan baik,” ungkap dr. Carlof, Senin 9 Februari 2026.
Menurut dr. Carlof, target 100 persen tidak dapat dilakukan secara instan. Jumlah karyawan tambang yang mencapai sekitar 40.000 orang menjadi tantangan tersendiri yang harus diantisipasi dengan perencanaan sistematis.
Pemda KSB bersama manajemen RSUD Asy-Syifa’ kini tengah menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari penguatan sarana dan prasarana, penambahan serta modernisasi peralatan medis, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia tenaga kesehatan.
“Keinginan untuk mencapai 100 persen akan kita atur secara bertahap. Sambil berjalan, kita juga menyiapkan seluruh kebutuhan MCU yang profesional agar mampu menampung seluruh karyawan tambang,” jelasnya.
Pendekatan bertahap ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pelayanan, tanpa mengganggu layanan reguler rumah sakit kepada masyarakat umum.
dr. Carlof menegaskan, orientasi kebijakan ini bukan semata mengejar angka pemeriksaan. Lebih dari itu, kualitas hasil MCU menjadi prioritas utama agar setiap pemeriksaan menghasilkan data kesehatan yang akurat, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami menjamin bahwa MCU nantinya akan menghasilkan tes kesehatan yang baik. Kami tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi kualitas layanan tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Standar pelayanan, sistem kontrol mutu, serta profesionalisme tenaga medis menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan MCU skala besar tersebut.
Sebagai langkah strategis jangka menengah dan panjang, Pemda KSB juga berencana menjadikan puskesmas yang berada di lingkar tambang sebagai satelit RSUD Asy-Syifa’. Skema ini bertujuan mendekatkan layanan kesehatan kepada para pekerja tambang sekaligus memperluas jangkauan fasilitas MCU.
Puskesmas satelit nantinya akan difungsikan untuk mendukung pelaksanaan MCU, sehingga ketika target 100 persen telah diambil alih RSUD Asy-Syifa’, sistem pelayanan sudah siap dan terintegrasi.
“Ke depan, puskesmas di lingkar tambang akan kita siapkan menjadi satelit RSUD Asy-Syifa’ untuk MCU. Ini untuk mendekatkan pelayanan kepada karyawan, sehingga akan tersedia banyak pilihan ketika 100 persen MCU sudah diambil alih RSUD Asy-Syifa’,” ujarnya.
Model satelit ini juga dinilai akan memperkuat sistem rujukan internal, serta mempercepat alur pemeriksaan tanpa harus memusatkan seluruh beban pelayanan di rumah sakit induk.
Lebih jauh, dr. Carlof menilai kebijakan ini sebagai langkah rasional dan strategis dalam mendorong kontribusi sektor pertambangan terhadap pembangunan daerah, khususnya di bidang kesehatan. Perusahaan tambang yang telah lama beroperasi dan memanfaatkan sumber daya alam KSB dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia secara terbuka menyebut peran PT Amman Mineral Nusa Tenggara sebagai perusahaan tambang besar yang beroperasi di KSB.
“Ini adalah langkah yang sangat masuk akal sebagai kontribusi nyata sektor tambang untuk mendukung kemajuan pelayanan kesehatan di KSB. AMMAN sudah bertahun-tahun mengambil hasil bumi KSB, sehingga sudah sepatutnya turut mendukung kemajuan daerah, salah satunya di bidang kesehatan,” katanya.
Kebijakan MCU 100 persen di RSUD Asy-Syifa’ tidak hanya berdampak pada penguatan kapasitas rumah sakit, tetapi juga menjadi instrumen penggerak kemandirian layanan kesehatan daerah.
Pemda KSB berharap kebijakan ini dapat berjalan lancar dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Jika terealisasi optimal, langkah ini diyakini akan memperkuat posisi RSUD Asy-Syifa’ sebagai pusat layanan kesehatan rujukan yang mandiri dan profesional.
Di sisi lain, keberhasilan program ini akan menjadi simbol sinergi antara pemerintah daerah dan sektor industri dalam membangun sistem kesehatan yang berkelanjutan di Kabupaten Sumbawa Barat. (Admin02.RadioArki)
