NEWS

Kolaborasi Hijau, Menanam Kesadaran dan ‘Memanen Cuan’ dari Sampah

Keterangan : Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbawa Barat, Manajemen AMMAN saat melakukan kunjungan ke Rumah Kompos SDN Bukit Damai, kecamatan Maluk. (sumber. Radio Arki)

Sumbawa Barat. Radio Arki – Matahari baru naik di upuk Timur, menghangatkan halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bukit Damai Kecamatan Maluk dengan sejumlah siswa yang nampak mulai ramai. Puluhan siswa itu tengah sibuk mengumpulkan daun kering dan sisa makanan yang berserakan, sampah itu bukan untuk dibuang, melainkan ‘disulap’ menjadi pupuk di rumah kompos sekolah dan menghasilkan ‘cuan’.

Pengelolaan sampah ini telah digagas SDN Bukit Damai semenjak dua tahun terakhir. Meski pasang surut dikarenakan minimnya tenaga teknis, tetapi bersama PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) keberadaannya kini cukup konsisten, terutuma dengan adanya pendekatan Program Pengelolaan Sampah di Sekolah (PPSS).

Sampah memang bagi banyak sekolah mungkin menjadi masalah, tetapi bagi SDN Bukit Damai, sampah bisa menjadi berkah. Betapa tidak?, sampah yang biasanya dibuang dan juga kadang mengotori sekolah, sekarang menjadi media pembelajaran, bahkan sumber penghasilan untuk sekedar menutup operasional sekolah.

Kepala SDN Bukit Damai (baju putih) saat mendampingi tim pengelola rumah kompos melakukan droping pupuk kompos yang akan dibawa ke AMMAN (sumber. arki)

“Semua ini berawal dari keinginan kami untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat. Namun ternyata, program ini berkembang menjadi lebih besar dari sekadar kebersihan. Anak-anak belajar disiplin, tanggung jawab dan juga ekonomi sederhana dari pengelolaan sampah,” tutur Kepala SDN Bukit Damai, Mikail, S.Pd saat dikonfirmasi Radio Arki, Rabu 15 Oktober 2025 kemarin.

Setiap minggu, para siswa bergantian mengumpulkan sampah organik dari lingkungan sekolah ataupun rumah mereka. Sampah itu lalu diolah di rumah kompos menjadi pupuk organik berkualitas. Dibawah bimbingan guru dan termasuk pendampingan tenaga ahli dari AMMAN, dalam sebulan SDN Bukit Damai mampu memproduksi sekitar 1,6 ton pupuk kompos, yang dijual dengan harga Rp 50 ribu per karung berisi 20 kilogram. Hasilnya? Sekolah bisa meraih pendapatan sekitar Rp 4 juta per bulan, bukan jumlah kecil untuk sekolah.

Hasil produksi itu sebenarnya masih bisa dikembangkan lebih jauh. Namun, keterbatasan sumber daya membuatnya baru mampu memenuhi kebutuhan warga sekitar, termasuk AMMAN. Di Balik angka produksi tersebut, tersimpan nilai yang jauh lebih berharga, perubahan prilaku. Kini, anak-anak mulai terbiasa membawa sampah dari rumah untuk diolah di sekolah. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan di sekolah bukan sekedar mendaur ulang sampah, tapi sebagai pendidikan karakter hijau yang perlu kolaborasi.

“Anak-anak beberapa kali datang ke sini (pasar) untuk mengambil sampah (organik), saya cukup terbantu. Semoga akifitas ini terus dilakukan,” ujar Ramlah (57), pedagang sayur di pasar dekat sekolah.

Dukungan AMMAN terhadap program ini bukan tanpa alasan. Sebagai perusahaan tambang besar yang beroperasi di Sumbawa Barat, AMMAN memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. PPSS adalah bagian dari visi Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN.  

“Kami ingin membantu sekolah-sekolah di sekitar wilayah operasi kami menjadi lebih mandiri, tidak hanya dalam hal pendidikan, tapi juga dalam pengelolaan lingkungan,” terang Wakil Presiden Bidang Komunikasi PT AMMAN, Kartika Octaviani kepada Radio Arki belum lama ini. 

Ia menjelaskan, dukungan AMMAN terhadap SDN Bukit Damai mencakup pembangunan rumah kompos, pelatihan pengelolaan sampah, hingga pendampingan teknis pembuatan pupuk organik. Hasil penjualan kompos sepenuhnya dikelola sekolah untuk kebutuhan operasional dan kegiatan belajar siswa.

Keterangan : Tim pengelola Rumah Kompos SDN Bukit Damai Kecamatan Maluk saat melakukan penimbangan pupuk kompos yang dihasilkan dan akan dijual kepada konsumen (sumber. Radio Arki)

“Tujuan akhirnya adalah kemandirian, Anak-anak tidak hanya belajar teori lingkungan, tetapi juga praktik nyata yang bermanfaat bagi masa depan mereka,” ujarnya

Inisiatif ini pun mendapat apresiasi dan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbawa Barat. Kolaborasi SDN Bukit Damai dan AMMAN diharapkan dapat menjadi contoh konkret pengelolaan sampah berbasis sekolah. Program juga sejalan dengan upaya daerah untuk mengurangi sampah dan memperkuat pengelolaan sampah mandiri.

“Kami berharap sekolah-sekolah lain meniru langkah ini,” ujar Kepala DLH Sumbawa Barat, Aku Nur Rahmadin saat melakukan kunjungan ke Rumah Kompos SDN Bukit Damai, belum lama ini.  

Menurutnya, menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal kecil, dari satu kantong sampah yang tidak dibuang sembarangan itu bisa mencerahkan masa depan. Apalagi sampah itu kemudian diolah dan menghasilkan ‘cuan’. Maka itu adalah pembelajaran yang layak untuk ditiru dan terus dikembangkan, termasuk tentang bagaimana kolaborasi hijau terbangun, karena dengan kolaborasi itu akan dapat berdampak secara sistemik terutama prilaku sosial terhadap sampah dan lingkungan. (Admin01. Radio Arki)   

Related posts

Keren! Easy Passport Program Pengajuan Pasport di Masa Pandemi

ArkiFM Friendly Radio

Sekolah Jurnalistik Remaja 2025 Resmi Dibuka, 13 Sekolah Turut Berpartisipasi

ArkiFM Friendly Radio

36 Personel Polres Sumbawa Barat Dilantik Kenaikan Pangkat

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page