Foto: Ardianto (topi biru), pecatur PWI KSB saat mengalahkan lawan lawannya pada PORWANAS 2026.
Mataram. Radio Arki – Di atas papan berpetak hitam putih, setiap bidak memiliki perannya masing-masing. Namun, hanya mereka yang mampu membaca puluhan langkah ke depan yang sanggup mengakhiri permainan dengan satu kata. Skakmat. Itulah yang diperlihatkan Ardianto saat menaklukkan lawan-lawannya hingga mengantarkan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) merajai cabang olahraga catur pada Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) NTB 2026.
Dengan ketenangan bak grandmaster dan naluri tajam yang ditempa puluhan tahun di dunia jurnalistik, wartawan berusia 49 tahun itu tampil sebagai yang terbaik di antara para pewarta se-Nusa Tenggara Barat. Di atas papan catur, ia tidak sekadar memainkan bidak, tetapi membaca peluang, mengukur risiko, dan menunggu momentum yang tepat untuk mengakhiri pertandingan.
Bagi Ardianto, papan catur bukan sekadar arena adu strategi, melainkan cerminan profesi yang telah digelutinya selama puluhan tahun. Layaknya menyusun fakta menjadi sebuah berita, ia merangkai setiap langkah dengan penuh pertimbangan. Tak ada keputusan yang terburu-buru, tak ada langkah tanpa membaca arah permainan. Kesabaran menjadi benteng pertahanan, kecermatan menjelma “menteri” yang menjaga keseimbangan, sementara keberanian menjadi kuda yang melompati setiap rintangan menuju kemenangan.
Turnamen yang berlangsung di Sekretariat PWI NTB, Sabtu (27/6/2026), menjadi panggung pembuktian bagi sosok yang akrab disapa Mas Gela. Wartawan senior itu tampil tenang menghadapi 15 peserta dari 10 kabupaten/kota se-NTB dalam pertandingan yang menggunakan sistem Swiss Pairing lima babak.
Langkah demi langkah ia susun layaknya merangkai alur sebuah berita. Babak pertama dibuka dengan kemenangan atas Gazali dari Lombok Timur. Pada babak kedua, ia menahan laju H.M. Nasir dari Bima dengan hasil remis.
Memasuki babak ketiga, Ardianto kembali menguasai papan setelah menumbangkan Imam Taufik dari sesama wakil Pulau Sumbawa.
Pertarungan mencapai klimaks pada dua babak terakhir. Setelah kembali bermain imbang melawan Abdul Muis dari Bima, Ardianto tampil tanpa cela di partai penentuan. Ia menaklukkan Fajar Rahmat dari Kabupaten Sumbawa dan menutup turnamen dengan koleksi empat poin.
Langkah terakhir itu menjadi pukulan penutup yang membuat lawan tak lagi memiliki ruang bergerak. Sebuah skakmat yang mengantar Kabupaten Sumbawa Barat duduk di singgasana juara.
Meski keluar sebagai kampiun, Ardianto memilih merespons kemenangan itu dengan penuh kerendahan hati. Baginya, gelar juara merupakan buah dari ketenangan dalam setiap pertandingan serta doa dan dukungan dari rekan-rekan sejawat.
“Alhamdulillah, saya hanya berusaha memainkan setiap pertandingan dengan tenang dan menikmati setiap langkah. Semua lawan memiliki kemampuan yang luar biasa. Kemenangan ini bukan hanya milik saya, tetapi juga untuk keluarga besar PWI KSB dan semua yang telah memberikan doa serta dukungan,” ujarnya.
Kemenangan Ardianto tidak hanya mengantarkan Kabupaten Sumbawa Barat berdiri di podium tertinggi. Raihan empat poin yang dikoleksinya memastikan KSB keluar sebagai juara cabang olahraga catur Porwada NTB 2026, sekaligus menggenggam golden ticket menuju Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2027 di Provinsi Lampung.
Koordinator Cabang Olahraga Catur Porwada NTB, H. Abdul Muis, mengatakan hasil tersebut diraih melalui persaingan yang berlangsung sangat ketat. Seluruh peserta merupakan wartawan yang memiliki kemampuan bermain catur mumpuni sehingga setiap pertandingan berjalan dalam tensi tinggi.
Menurutnya, format Swiss Pairing membuat setiap langkah memiliki arti yang sangat menentukan. Satu kesalahan kecil saja dapat mengubah peta persaingan sekaligus menggeser posisi peserta di papan klasemen.
“Semua peserta memiliki kualitas yang merata. Dalam sistem Swiss Pairing, satu langkah yang keliru bisa menjadi penentu kalah atau menang. Karena itu, juara tahun ini benar-benar ditentukan oleh ketenangan, ketelitian, dan kemampuan membaca permainan hingga langkah terakhir,” kata Abdul Muis.
Prestasi Ardianto sejatinya bukan lahir dari satu hari pertandingan. Gelar juara itu merupakan buah dari perjalanan panjang yang ditempa selama puluhan tahun di dunia jurnalistik. Pengalaman meliput berbagai peristiwa mengasah nalurinya membaca situasi, mengukur risiko, memilih momentum, sekaligus tetap tenang di bawah tekanan. Kemampuan itulah yang kemudian ia bawa ke atas papan catur, menjadikan setiap perpindahan bidak sebagai keputusan yang lahir dari perhitungan matang, bukan sekadar keberuntungan.
Jejak prestasinya pun telah lama terukir di level nasional. Pada Porwanas 2022 di Kota Malang, Jawa Timur, Ardianto dipercaya memperkuat kontingen NTB. Dua tahun kemudian, pada Porwanas 2024 di Kalimantan Selatan, ia kembali membela NTB dan sukses mempersembahkan medali perak serta perunggu dari nomor beregu.
Namun, bagi Ardianto, kemenangan bukanlah garis akhir. Ia memandang setiap pertandingan sebagai ruang untuk terus belajar, sebagaimana profesi wartawan yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan kemampuan membaca situasi.
“Dalam catur, satu langkah yang tergesa-gesa bisa mengubah seluruh permainan. Saya kira pelajaran itu juga berlaku dalam profesi wartawan. Kita harus sabar, teliti, dan berpikir sebelum mengambil keputusan. Saya sendiri masih terus belajar,” tuturnya.
Kini, mahkota juara Porwada NTB 2026 menjadi penanda bahwa ketajaman pena dapat berpadu dengan kecerdasan membaca strategi di atas papan catur. Di tangan Ardianto, setiap langkah bukan sekadar perpindahan bidak, melainkan cerminan ketelitian seorang wartawan dalam merangkai fakta, membaca situasi, dan mengambil keputusan. (Admin 02.RadioArki)
