ARKIFMNEWS

Arpusda: Tingkat Kegemaran Membaca Warga KSB Baru 63 Persen

Sumbawa Barat. Radio Arki – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Sumbawa Barat mengungkapkan tingkat kegemaran membaca masyarakat di daerah itu saat ini baru mencapai 63 persen.

Angka tersebut dinilai masih berada di bawah kategori ideal yang berkisar antara 80 hingga 100 persen, sehingga diperlukan upaya bersama untuk menumbuhkan budaya membaca sejak dari lingkungan keluarga.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, H. Burhan Daeng Mangago, saat mengikuti kegiatan Pelayanan Setara Inklusif Andalan (Yasinan) Kabupaten Sumbawa Barat di Central Wakil Bupati, Kamis, 9 Juli 2026.

Burhan mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat melalui dukungan Wakil Bupati selaku Bunda Literasi terus berikhtiar meningkatkan indeks kegemaran membaca masyarakat. Menurutnya, literasi merupakan fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

“Alhamdulillah Ibu Wakil Bupati sebagai Bunda Literasi terus memberikan dukungan kepada kami. Saat ini tingkat kegemaran membaca kita baru sekitar 63 persen. Angka itu masih kurang, karena kategori yang baik berada pada kisaran 80 hingga 100 persen,” ujarnya.

Di tengah upaya tersebut, Kabupaten Sumbawa Barat mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah Kemah Literasi Nusa Tenggara Barat tahun 2027. Penetapan itu diumumkan dalam kegiatan Kemah Literasi NTB yang berlangsung di Mataram pada 5 Juli 2026 dan diikuti sekitar 120 peserta dari komunitas literasi se-NTB.

Menurut Burhan, penunjukan tersebut menjadi motivasi sekaligus tantangan bagi daerah untuk terus memperkuat gerakan literasi hingga ke tingkat desa.

“Pada kegiatan kemah literasi kemarin, Gubernur NTB bersama Bunda Literasi NTB menetapkan Kabupaten Sumbawa Barat sebagai tuan rumah Kemah Literasi tahun 2027. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus meningkatkan budaya membaca di masyarakat,” katanya.

Burhan menjelaskan, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca. Lebih dari itu, literasi mencakup kemampuan memahami, mengkaji, berpikir kritis, hingga menulis. Kemampuan tersebut, kata dia, menjadi bekal penting bagi seseorang dalam menghadapi perkembangan zaman.

Namun, ia mengakui membangun budaya literasi saat ini bukan perkara mudah. Perkembangan teknologi digital membuat anak-anak semakin akrab dengan gawai dibandingkan buku bacaan.

“Kalau sekarang ada anak menangis, yang diberikan justru handphone. Padahal akan lebih baik jika diberikan buku. Dulu anak-anak lebih dekat dengan buku cerita atau majalah anak. Kebiasaan itu yang sekarang mulai berkurang,” tuturnya.

Ia juga menyoroti fenomena yang terjadi di sejumlah negara maju. Ketika Indonesia terus bergerak menuju digitalisasi, negara-negara tersebut justru mulai menghidupkan kembali budaya membaca buku cetak sebagai upaya mengurangi dampak negatif penggunaan gawai secara berlebihan.

“Negara maju sekarang justru kembali ke buku bacaan cetak. Mereka melihat penggunaan handphone yang berlebihan memiliki dampak yang tidak sedikit terhadap perkembangan anak,” ujarnya.

Karena itu, Burhan menilai keluarga menjadi kunci utama dalam membangun budaya literasi. Menurutnya, kebiasaan membaca harus ditanamkan sejak dini melalui lingkungan rumah sebelum diperkuat oleh sekolah maupun perpustakaan.

Ia mengajak para orang tua membiasakan anak-anak membawa buku, termasuk saat bermain di lingkungan rumah. Dengan cara itu, anak akan terdorong untuk membaca dan menjadikan buku sebagai bagian dari kesehariannya.

“Kalau anak-anak terbiasa membawa buku, mereka akan terdorong untuk membacanya. Orang-orang yang sukses hari ini umumnya memiliki tingkat literasi yang tinggi karena mereka terbiasa membaca dan terus belajar,” katanya.

Burhan berharap ke depan setiap desa di Kabupaten Sumbawa Barat memiliki ruang atau pojok literasi yang menjadi tempat anak-anak berkumpul untuk membaca, berdiskusi, hingga membedah buku bersama.

“Mimpi kami, di setiap desa atau pojok desa ada anak-anak yang berkumpul sambil membaca, berdiskusi, dan membicarakan apa yang mereka baca. Kalau budaya seperti itu tumbuh, tingkat kegemaran membaca kita akan meningkat. Dampaknya mungkin tidak langsung dirasakan hari ini, tetapi dalam 10 hingga 20 tahun ke depan kita akan memiliki generasi Sumbawa Barat yang luar biasa,” pungkasnya. (Admin02.RadioArki)

Related posts

1,5 Tahun Menjabat, Inilah Capaian Kepemimpinan Dr. Ir.H.W Musyafirin-Fud Syaifuddin, ST (1)

ArkiFM Friendly Radio

KPU KSB Serahkan APK Kepada Paslon

ArkiFM Friendly Radio

Perkuat Sinergi untuk Informasi Publik, Polres KSB dan Pers Gelar Bukber

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page