ARKIFMNEWS

Mengolah Sampah Layaknya Ore

Jejak Hijau di SMPN 6 Taliwang

Pagi menjelang siang, saya melangkah menuju sebuah sekolah yang terletak tidak jauh dari pusat Kota Taliwang. Panas terasa menyengat di kulit, debu beterbangan. Namun begitu kaki menjejak pekarangan sekolah, hembusan udara sejuk langsung menerpa wajah. Suasana langsung berubah drastis, rindang, tenang dan bersih.

Pohon pohon besar tumbuh menjulang dengan bayangan hijau yang teduh. Di bawahnya, rumput rumput kecil tumbuh teratur. Sekolah itu seperti mini hutan yang terpelihara dengan penuh cinta. Menghadirkan harmoni antara alam dan ruang belajar.

Sekolah ini adalah SMPN 6 Taliwang, sebuah sekolah yang menjadi pelopor dalam mengelola sampah menjadi sumber manfaat.

Di tempat inilah sampah bukan lagi dianggap sebagai masalah, melainkan bahan bernilai layaknya bijih tambang ore, yang bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna.

“Di sini kami mengajarkan anak anak untuk tidak sekedar membuang sampah, tetapi juga memilah dan mengelolanya,” ujar Taofiq Rahman, S.Pd.I, Kepala SMPN 6 Taliwang, membuka percakapan siang itu.

Taofiq menuturkan, budaya peduli lingkungan sudah menjadi bagian dari visi dan karakter sekolah. Sejak awal, siswa diajak untuk memahami bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama.

“Kami ajarkan anak anak memilah sampah organik dan non organik. Bahkan, dari pemilahan itu, ada nilai ekonomi yang bisa mereka pelajari,” ujarnya.

Foto: Produk pupuk Kompos SMPN 6 Taliwang yang diberi nama Pupuk Organik Sekolah Kita (POSTA).

Awalnya, pengelolaan sampah dilakukan dengan alat seadanya. “Kami dulu mencacah sampah pakai mesin bor yang dimodifikasi menjadi alat pengaduk,” kenangnya.

Namun semangat itu tidak pernah surut. Berkat ketekunan dan sinergi dengan Komunitas Hijau Biru, mitra binaan PT. Amman Mineral, sekolah ini perlahan bertransformasi. Setiap minggu, tim komunitas datang memberi edukasi dan mendampingi siswa secara langsung.

Perhatian PT. Amman pun kemudian hadir lebih jauh. Bantuan mesin pencacah, timbangan, mesin jahit, hingga alat penunjang rumah kompos turut diberikan. Sejak saat itu, kegiatan pengolahan sampah di sekolah menjadi lebih produktif.

Produksi pupuk organik SMPN 6 Taliwang meningkat pesat. Setiap panen mampu mencapai 800 kilogram hingga 1 ton. Hasil olahan ini diberi nama POSTA, Pupuk Organik Sekolah Kita.

“POSTA buka sekadar pupuk. Ini simbol kebersamaan warga sekolah, bukti bahwa dari sampah bisa jadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” jelasnya.

Kini, POSTA telah diuji laboratorium oleh PT. Amman dan dinyatakan memiliki kualitas baik. Produk ini bahkan telah dipasarkan hingga ke luar daerah, menjadikan SMPN 6 Taliwang dikenal sebagai sekolah adiwiyata. Terbukti dengan raihan juara 1 Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi NTB tahun 2023.

Di sisi belakang sekolah berdiri bangunan sederhana yang disebut rumah kompos SMPN 6 Taliwang. Di sinilah kegiatan pengelolaan sampah berlangsung setiap hari, di bawah bimbingan Deden Purnawan, S.Pd, guru pembina rumah kompos.

“Bahan baku kompos kami berasal dari berbagai sumber. Dari sekolah sendiri ada daun, rumput dan ranting. Sementara kohe sapi dan serbuk gergaji dari rumah warga sekitar sekolah. Ada juga bahan yang berasal dari rumah siswa seperti sisa sayuran dan makanan,” tutur Deden, sembari memperlihatkan beberapa bagian bangunan rumah kompos.

Foto: Taofiq Rahman, S.Pd.I, Kepala Sekolah SMPN 6 Taliwang, saat menujukan piagam penghargaan sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi NTB.

Setiap langkah pengolahan dilakukan oleh siswa sendiri, mulai dari memilah, mencacah, memfermentasi, hingga memanen hasil akhir. Semua menjadi bagian dari pembelajaran life skill, yang mengajarkan keterampilan dan tanggung jawab lingkungan.

Kini, kegiatan itu menjadi salah satu ekstrakulikuler favorit siswa. Selain belajar sains dan biologi, mereka juga bisa belajar ekonomi melalui proses pemasaran POSTA.

“Anak anak belajar bahwa bekerja dengan tangan kotor tidak apa apa, asalkan hasilnya membawa manfaat bagi banyak orang,” tuturnya.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari pendampingan Komunitas Hijau Biru, mitra lingkungan yang secara konsisten mendampingi sekolah dalam Program Pengelolaan Sampah di Sekolah (PPSS) yang diinisiasi PT. Amman.

Menurut H. Bambang, perwakilan komunitas, sekolah ini adalah contoh sukses bagaimana kolaborasi mampu mengubah cara pandang terhadap sampah.

“Kami hadir memberikan edukasi dan memantau implementasinya. Sistem kerja yang kami dan warga sekolah bangun juga jelas, karena ada program harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Lewat program yang terukur, kini SMPN 6 Taliwang berkembang pesat,” bebernya.

Dari sekedar pengolahan kompos, kini sekolah mampu mengembangkan bibit tanaman dan holtikultura. Produk POSTA telah banyak dipasarkan ke masyarakat, proyek pemerintah, hingga ke PT. Amman sendiri.

“Kami menyebutnya siklus organik, karena kegiatan ini berputar tanpa henti. Sampah dari sekolah dan rumah menjadi bahan baku di sekolah, lalu hasilnya kembali memberi manfaat untuk banyak pihak. Kami tidak lagi menyebutnya sampah, tapi bahan baku kehidupan,” tambahnya.

Setelah bertahun tahun menerapkan budaya peduli lingkungan lewat pemilahan dan pengolahan sampah, kini SMPN 6 Taliwang menjelma menjadi sekolah hijau yang menebarkan inspirasi.

Sekolah ini adalah bukti bahwa ketika pendidikan bersentuhan dengan kesadaran lingkungan, yang tumbuh bukan hanya tanaman di taman, tapi juga karakter dan kepedulian.

Di sini sampah bukan masalah, tapi sumber kehidupan. Layaknya ore yang bernilai bila diolah dengan cinta dan kesadaran. (Admin02.RadioArki)

Related posts

Jelang Presentasi AK, PWI KSB dan Kabag Prokopim Ikut Zoom Meeting

ArkiFM Friendly Radio

Mitra Program Prakerja, PINTAR Dorong Pendidikan Inklusif Di Sumbawa

ArkiFM Friendly Radio

Cagar Budaya Di KSB Akan Dikembangkan

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page