Lombok Timur. Radio Arki – Bagi sebagian orang, kemacetan adalah sumber keluh kesah. Deretan kendaraan yang mengular berjam-jam menuju pelabuhan dianggap membuang waktu dan menguras tenaga.
Namun, di balik antrean panjang itu, ada sekelompok orang yang justru menemukan harapan. Di tengah deru mesin kendaraan dan klakson yang bersahutan, mereka menjemput rezeki dengan langkah kaki.
Matahari belum lama tenggelam ketika Echa (22) dan Rina (23) mulai memanggul dagangan mereka. Rokok, kopi sachet, mi instan, air mineral hingga makanan ringan tersusun rapi dalam kantong yang mereka bawa berkeliling.
Sejak pukul 16.00 WITA, keduanya sudah menyusuri setiap baris kendaraan yang memenuhi akses menuju Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur.
Malam perlahan semakin larut. Namun, aktivitas mereka justru semakin padat. Kemacetan yang memanjang hingga ke luar kawasan pelabuhan menjadi ladang rezeki yang tak pernah mereka sia-siakan.
Setiap kendaraan yang berhenti adalah peluang. Mereka menghampiri pengendara sepeda motor, mengetuk pelan kaca mobil pribadi, menawarkan kopi kepada sopir truk, hingga menyapa penumpang angkutan umum yang mulai kelelahan menunggu giliran menyeberang.
“Rokok, kopi, Pop Mie, Pak… Bu…” seruan itu berulang ratusan kali dalam semalam.
Tak semua membeli. Ada yang hanya menggeleng, ada pula yang tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Namun bagi Echa dan Rina, setiap penolakan bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Asal mereka dari Desa Sandubaya Barat, Kecamatan Pringgabaya. Sejak beberapa waktu terakhir, kawasan Pelabuhan Kayangan menjadi tempat mereka menggantungkan harapan.
Mereka sadar, antrean kendaraan yang panjang memang melelahkan bagi para pengguna jalan. Namun, di situlah kesempatan hidup hadir bagi mereka.
Dalam semalam, mereka berjalan berkilometer menyusuri antrean kendaraan. Dari sore hingga sekitar pukul 03.00 dini hari menjelang subuh, kaki mereka nyaris tak berhenti bergerak.
Bukan pekerjaan yang ringan bagi dua perempuan muda. Mereka harus bertahan melawan dinginnya angin malam, debu jalanan, dan rasa kantuk yang datang silih berganti. Sesekali mereka beristirahat beberapa menit sebelum kembali menawarkan dagangan kepada kendaraan yang terus berdatangan.
Jerih payah itu tidak sia-sia. Dalam satu malam, keduanya mampu membawa pulang keuntungan sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Jumlah yang mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, tetapi sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Di balik angka itu tersimpan pengorbanan yang jarang terlihat. Waktu istirahat yang berkurang, tenaga yang terkuras, serta keberanian bekerja hingga dini hari menjadi harga yang harus dibayar demi memastikan dapur tetap mengepul.
Pelabuhan Kayangan pun menghadirkan dua wajah yang berbeda. Bagi pengguna jasa penyeberangan, kemacetan adalah ujian kesabaran. Namun bagi para pedagang asongan seperti Echa dan Rina, antrean kendaraan justru menjadi denyut kehidupan yang menghadirkan secercah harapan.
Setiap malam mereka mengajarkan satu hal sederhana, dimana rezeki tidak selalu datang di tempat yang nyaman. Kadang, ia hadir di tengah kepadatan jalan, di sela-sela antrean kendaraan yang nyaris tak bergerak, dan hanya bisa dijemput oleh mereka yang bersedia bekerja lebih keras daripada kebanyakan orang. (Admin02.RadioArki)
