NEWS

Bangkitkan Kesadaran Politik Mahasiswa, BEM FRS UTS Gelar Sekolah Politik

Keterangan poto : suasana kegiatan sekolah politik di UTS (sumber. radio arki)

Sumbawa. Radio Arki – Di tengah menurunnya minat mahasiswa terhadap isu-isu politik, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Rekayasa Sistem Universitas Teknologi Sumbawa (FRS UTS) mengambil langkah progresif dengan menggelar Sekolah Politik, Sabtu (28/6/2025) di Gedung Integrated Lab 1. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan reflektif bagi mahasiswa dalam memahami makna politik secara lebih mendalam, sekaligus membongkar stigma negatif yang selama ini melekat pada dunia politik.

Mengusung tema “Transformasi Perspektif Mahasiswa FRS Menuju Kesadaran Politik”, kegiatan ini diinisiasi oleh Departemen Advokasi dan Kajian Strategis (Advokastrat) sebagai bentuk tanggapan atas kekhawatiran terhadap rendahnya kesadaran politik di kalangan mahasiswa. Minimnya pemahaman mengenai peran lembaga eksekutif dan legislatif, baik di lingkup kampus maupun di tingkat nasional, menjadi salah satu pemicu utama digelarnya kegiatan ini.

Dalam sambutannya, Ketua BEM FRS, Zam Zam mengatakan bahwa politik bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, politik merupakan instrumen penting dalam membangun arah kebijakan dan perubahan sosial.

“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sarana perjuangan menuju keadilan dan kesejahteraan,” tegasnya.

keterangan poto : salah satu narasumber sekolah politik

Sekolah Politik ini menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan pengalaman yang mumpuni. Salah satunya adalah, Win Ariga Mansur Malonga, S.Pi., M.Sc. yang membuka sesi dengan materi bertajuk “Pengertian Politik dan Korelasi Gerakan Mahasiswa dalam Politik Indonesia”.

Ia mengajak peserta untuk menelusuri jejak sejarah politik Indonesia, mulai dari era Orde Lama, masa transisi, hingga dinamika demokrasi masa kini. Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab historis dalam menjaga marwah demokrasi.

Sementara itu, Yahdil, S.T., membawakan materi “Politik Kampus” dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Ia memaparkan bagaimana seharusnya dinamika politik di lingkungan kampus berjalan, sehat, edukatif, dan kolaboratif. Ia menekankan pentingnya sinergi antara lembaga kemahasiswaan agar tidak terjebak dalam konflik kepentingan yang justru merusak nilai-nilai demokrasi di lingkungan akademik.

Antusiasme peserta terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi secara kritis. Dalam sesi itu mahasiswa menggali perspektif baru dan memperdalam pemahaman terhadap isu-isu politik, baik yang berskala nasional maupun yang berlangsung di lingkungan kampus. (yd. Radio Arki)

Related posts

Rakor dengan Wagub dan Forkopimda, Mahfud MD Tegaskan Pilkada Tak Ditunda

ArkiFM Friendly Radio

Soal Kasus Trakindo, SBSI dan SPATS Mengapresiasi Kinerja Pemda KSB

ArkiFM Friendly Radio

Gandeng Kementan RI, SMKN 1 Brang Ene Beri Edukasi Para Petani

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page