Brang Ene. Radio Arki- Suasana Desa Manemeng, Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat, selalu berubah menjadi lebih hidup setiap kali Hari Lahir (HARLAH) desa tiba, termasuk dalam rangkaian peringatan HARLAH Desa pada tanggal 15 November 2025 lalu. Sejak pagi, warga sudah berdatangan ke arena yang disiapkan khusus untuk lomba karapan ayam. Terik matahari tak jadi penghalang. Semangat masyarakat justru terasa makin membara.
Bukan hanya para pegiat karapan ayam yang terlihat sibuk di arena, tetapi warga juga ikut ambil bagian dalam kemeriahan tersebut. Ada yang menjadi panitia, membantu mengatur jalannya lomba, ada pula yang sekadar hadir memberi dukungan dan meramaikan suasana. Semua larut dalam semangat yang sama, menjadikan perayaan itu benar-benar milik bersama.
Begitu aba-aba diberikan, sepasang ayam langsung melesat cepat di lintasan. Penonton spontan bersorak. Teriakan penyemangat terdengar saling bersahutan, memecah udara siang itu. Suasana yang sebelumnya santai seketika berubah tegang, semua mata fokus ke garis akhir. Hanya dalam hitungan detik perlombaan usai, namun gemuruh tepuk tangan dan perbincangan warga masih terus terdengar, membahas siapa yang paling cepat dan siapa yang nyaris menang.
Karapan ayam bagi warga Manemeng bukan sekadar lomba biasa. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari perayaan tahunan desa dan selalu digelar meriah saat HARLAH. Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan mempererat kebersamaan dan menyatukan warga.

Kepala Desa Manemeng, Jayadi, menegaskan bahwa pelestarian tradisi merupakan bagian penting dari pembangunan desa. Menurutnya, budaya tidak boleh dipisahkan dari proses kemajuan. Karapan ayam ini bukan hanya hiburan. Ini bagian dari warisan budaya. Dengan menjaga tradisi, diharapkan akan dapat memperkuat rasa kebersamaan dan identitas masyarakat.
Ia meyakini, ketika masyarakat memiliki kebanggaan terhadap budaya dan desanya, maka akan lebih mudah membangun partisipasi dalam berbagai program pembangunan. Budaya, kata dia, adalah pintu masuk untuk menumbuhkan kesadaran kolektif.
“Kalau masyarakat bangga dengan desanya, mereka akan lebih mudah diajak terlibat dalam pembangunan. Rasa memiliki itu lahir dari identitas yang kuat,” ujarnya belum lama ini.
Di balik kemeriahan lomba, ada proses panjang yang melibatkan banyak pihak. Para pemuda desa menjadi panitia, mengatur teknis perlombaan dan menjaga ketertiban. Tokoh masyarakat turut memberikan dukungan moral. Ibu-ibu menyiapkan konsumsi untuk peserta dan tamu. Semua terlibat dalam semangat gotong royong yang terasa kental.
Karapan ayam juga menjadi ruang silaturahmi antarwarga, begitupun disaat gelaran Karapan Ayam kemarin. Mereka yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaan masing-masing kini berkumpul dalam suasana santai dan penuh canda. Momentum HARLAH desa bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga ruang mempererat hubungan sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Bagi generasi muda, tradisi ini menjadi sarana mengenal akar budayanya. Mereka tidak hanya menyaksikan perlombaan, tetapi belajar tentang makna kebersamaan, sportivitas, dan kebanggaan terhadap warisan leluhur. Pemerintah desa pun berupaya mengemas kegiatan ini secara positif agar tetap relevan dan menjadi ajang hiburan rakyat yang sehat.
Di tengah arus modernisasi yang perlahan masuk hingga ke pelosok desa, Desa Manemeng memilih untuk tidak meninggalkan tradisinya. Justru sebaliknya, tradisi dirawat dan digalakkan sebagai energi sosial yang memperkuat persatuan. Pembangunan fisik mungkin terlihat dari jalan dan fasilitas umum, tetapi pembangunan sosial tumbuh dari kebersamaan seperti yang tercipta dalam karapan ayam.
Perlombaan itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun semangat yang lahir darinya bertahan jauh lebih lama. Dari arena sederhana di Desa Manemeng, masyarakat belajar bahwa budaya adalah kekuatan. Dan dari kekuatan itulah, partisipasi dan semangat membangun desa terus tumbuh, tahun demi tahun. (Admin01. Radio Arki)
