Brang Ene. Radio Arki- Lapangan Desa Manemeng, Kecamatan Brang Ene, sudah riuh di pagi itu. Anak-anak berteriak, menggiring bola, dan beradu skill dengan semangat membara. Demikian semangat anak-anak di ajang West Sumbawa League (WSL) KU 10 dan KU 12 kali ini, para pemain cilik juga Nampak menunjukkan kemampuan terbaik mereka, menghadirkan pertandingan yang seru sekaligus memeriahkan suasana perayaan di desa.
Tahun ini, WSL tampil lebih semarak karena panitia mengundang sekolah sepak bola dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Kehadiran tim-tim dari luar desa menambah warna kompetisi, membuat pertandingan di kategori KU 10 dan KU 12 lebih kompetitif, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas. Setiap pertandingan menghadirkan strategi dan kerja sama tim yang mulai matang, meskipun para pemain masih berusia belia. Umpan pendek, duel satu lawan satu, hingga selebrasi sederhana penuh tawa menjadi pemandangan yang membangkitkan semangat.
Kepala Desa Jayadi menegaskan bahwa pembinaan sepak bola usia dini akan terus menjadi perhatian pemerintah desa. Menurutnya, olahraga adalah medium efektif membentuk karakter generasi muda melatih disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi tantangan sejak dini.
“Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak kita bukan hanya bermain, tetapi belajar tentang kebersamaan, sportivitas, dan semangat berjuang. Ini bagian dari pembangunan sumber daya manusia di desa,” ujarnya, usai membuka WSL 2025, Senin 22 Desember 2025 di lapangan desa.
Bagi pemerintah desa dan panitia, WSL bukan sekadar agenda tahunan untuk memeriahkan harlah desa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan yang strategis, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan warga terhadap desa. Lapangan yang dipadati penonton menjadi bukti bahwa olahraga mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat—orang tua, pemuda, perangkat desa, hingga anak-anak larut dalam satu semangat yang sama.

Kegiatan ini juga memperlihatkan bagaimana olahraga bisa menjadi wahana partisipasi warga dalam pembangunan desa. Anak-anak yang mengikuti WSL akan lebih mengenal nilai-nilai kerja sama dan disiplin, orang tua merasa bangga melihat prestasi anaknya, sementara perangkat desa dapat menyusun strategi pembinaan yang lebih terarah. Dengan cara ini, olahraga tidak hanya soal fisik, tetapi juga menanamkan nilai sosial dan budaya partisipatif yang kuat.
Di tengah gemuruh tepuk tangan dan suara peluit wasit, terlihat pula interaksi hangat antara pelatih dari sekolah sepak bola undangan dengan anak-anak desa. Pelatih memberikan arahan teknis, memperbaiki posisi saat bertahan maupun menyerang, dan memberi motivasi. Hal ini membuktikan bahwa event seperti WSL tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga kesempatan pembelajaran yang berkelanjutan. Ajang ini juga bukan sekadar pertandingan, melainkan nilai yang tertanam semangat, rasa memiliki, dan kebanggaan kolektif terhadap desa.
Lebih lanjut Kepala Desa Jayadi juga menyampaikan komitmennya untuk menjadikan sepak bola usia dini sebagai even tahunan, WSL di Desa Manemeng bukan hanya menjadi perayaan semarak harlah desa. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi fondasi bagi generasi muda untuk berkembang, menumbuhkan kebanggaan lokal, dan memperkuat partisipasi warga dalam pembangunan.
“Dari lapangan sederhana itulah, mimpi-mimpi besar dimulai dan rasa bangga terhadap desa akan terus hidup, seiring semangat yang terus bergulir di kaki anak-anak Desa Manemeng untuk itu kita akan berkomitmen untuk menjadi even ini sebagai even tahunan setiap harlah desa,” demikian kades Jaya. (Admin01. Radio Arki)
