NEWS

Ketua BEM FKIP-UNSA Peringatkan Bahaya Bullying di Dunia Pendidikan

Sumbawa. Radio Arki – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samawa (FKIP-UNSA), Fitrah Andiyan, memperingatkan bahaya praktik perundungan (bullying) yang masih terjadi di lingkungan pendidikan. Ia menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk tumbuh dan berkembang, bukan tempat munculnya kekerasan sosial atau tekanan psikologis.

Pernyataan itu disampaikan Fitrah pada Rabu (22/10/2025) di Sumbawa Besar. Ia menilai, maraknya kasus perundungan menunjukkan bahwa nilai-nilai moral dan kemanusiaan di dunia pendidikan mulai tergerus.

“Dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter generasi muda yang berakhlak, berempati, dan berkepribadian luhur. Namun, meningkatnya kasus bullying menjadi peringatan bahwa perilaku tidak beretika mulai menggeser nilai kemanusiaan di lingkungan kampus,” ujarnya.

Menurut Fitrah, tindakan perundungan di dunia pendidikan tidak hanya melukai korban secara fisik dan mental, tetapi juga merusak hakikat pendidikan sebagai ruang pembentukan karakter. Kampus, katanya, harus menjadi tempat yang aman dan inklusif, di mana setiap mahasiswa bebas berekspresi dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut atau tekanan sosial.

“Perguruan tinggi harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan belajar yang beretika, empatik, dan saling menghormati. Pendidikan karakter, penguatan moral, serta penanaman nilai kemanusiaan harus menjadi bagian dari kultur akademik,” tegasnya.

Fitrah juga mendorong setiap universitas untuk membangun sistem pelaporan yang cepat, rahasia, dan berpihak kepada korban agar setiap kasus perundungan dapat ditangani dengan serius dan adil. Ia menilai, layanan konseling dan pendampingan psikologis perlu diperkuat agar mahasiswa yang mengalami tekanan sosial tidak merasa sendirian.

Selain itu, ia menekankan pentingnya peran dosen dan tenaga pendidik dalam mencegah perundungan di lingkungan kampus. Menurutnya, dosen bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing dan teladan yang harus mampu menumbuhkan sikap saling menghormati serta berperilaku etis di antara mahasiswa.

“Organisasi kemahasiswaan juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengkampanyekan gerakan anti-bullying, mengedukasi sesama mahasiswa, dan menumbuhkan solidaritas antaranggota kampus,” tambahnya.

Fitrah menilai, upaya pencegahan bullying tidak cukup hanya melalui aturan atau sanksi. Diperlukan pendekatan yang lebih humanis dengan menanamkan nilai empati, kepedulian sosial, dan budaya gotong royong di lingkungan akademik.

“Bullying bukan sekadar pelanggaran disiplin, tetapi luka moral yang dapat menghancurkan masa depan generasi. Karena itu, mencegahnya adalah tanggung jawab bersama demi mewujudkan dunia pendidikan yang beradab, bermartabat, dan berperikemanusiaan,” pungkas Fitrah Andiyan (Yd. Radio Arki)

Related posts

J&T Express Tawarkan Jasa Pengiriman Barang ‘Antar-Jemput Cepat’ Sampai Tujuan

ArkiFM Friendly Radio

Distan Akan Salurkan Bantuan Ayam Petelur Lengkap dengan Pakannya

ArkiFM Friendly Radio

Hati-Hati! Sumbawa Barat Belum Bebas Dari Virus Antraks

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page