Oleh : Alimuddin (Pegiat Lingkungan)
Maluk – Aliran Sungai Benete di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), dalam beberapa pekan terakhir dipenuhi tumpukan sampah plastik. Kantong sekali pakai, botol minuman, dan kemasan makanan terlihat menutup sebagian permukaan sungai dan bendungan desa. Kondisi ini bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi menjadi penanda adanya persoalan serius dalam tata kelola lingkungan di sekitar kawasan industri.
Sungai Benete selama ini memiliki peran penting bagi masyarakat desa, baik sebagai sumber air, penopang pertanian, maupun bagian dari ekosistem yang menjaga keseimbangan lingkungan. Ketika sungai dipenuhi sampah, yang terganggu bukan hanya pemandangan, tetapi juga fungsi dasar sungai sebagai penyangga kehidupan warga.
Persoalan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Sampah yang mengalir ke sungai diduga berasal dari aktivitas domestik karyawan dan operasional sejumlah pelaku usaha di kawasan industri sekitar Benete. Pola pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada sistem jemput, angkut, dan buang tanpa pemilahan sejak dari sumber menjadi akar masalah yang terus berulang.
Sampah rumah tangga dan sisa aktivitas usaha dikumpulkan tanpa pemisahan antara sampah organik, anorganik, dan residu. Dalam praktiknya, sampah hanya dipindahkan dari satu titik ke titik lain tanpa pengolahan yang jelas. Ketika hujan turun dan debit air meningkat, sungai dan bendungan desa menjadi muara akhir dari kelalaian tersebut.
Akibatnya mulai dirasakan langsung oleh warga. Aliran air tersumbat, risiko banjir meningkat, dan kualitas lingkungan menurun. Plastik yang seharusnya dapat didaur ulang justru mencemari sungai, merusak ekosistem, serta mengancam sumber air irigasi dan air bersih. Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Ironisnya, persoalan ini terjadi di kawasan industri yang kerap dipersepsikan sebagai simbol kemajuan. Pembangunan dan aktivitas ekonomi berjalan, tetapi tanggung jawab lingkungan belum sepenuhnya menjadi bagian dari budaya usaha. Padahal, prinsip pembangunan berkelanjutan menuntut keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Pemilahan sampah sejak dari sumber seharusnya menjadi langkah paling dasar yang dilakukan oleh setiap pelaku usaha. Langkah ini tidak membutuhkan teknologi rumit, tetapi membutuhkan komitmen dan kesadaran. Dengan pemilahan yang baik, volume sampah yang berakhir di sungai dapat ditekan secara signifikan.

Lebih jauh, sampah sejatinya bukan hanya beban, tetapi juga peluang. Sampah plastik dapat dikumpulkan dan didaur ulang, sampah organik diolah menjadi kompos, sementara residu diminimalkan. Keterlibatan bank sampah, komunitas lokal, dan penggiat lingkungan di sekitar kawasan industri dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Namun, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Pelaku usaha, pemerintah desa, dan pemerintah daerah harus hadir dalam satu kerangka kolaborasi yang jelas. Pengawasan, regulasi, serta edukasi kepada karyawan dan masyarakat sekitar menjadi kunci agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Sungai Benete bukan tempat pembuangan akhir. Ia adalah ruang hidup yang menopang keseharian warga desa. Ketika sungai dipaksa menanggung beban sampah, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan adalah kualitas hidup masyarakat hari ini dan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Tulisan ini hendak menegaskan bahwa pembangunan tanpa tanggung jawab lingkungan hanya akan menyisakan masalah. Jika tata kelola sampah tidak segera dibenahi, maka yang terus mengalir ke Sungai Benete bukan hanya sampah plastik, tetapi juga kelalaian yang suatu saat dapat berubah menjadi bencana.
