ARKIFMNEWS

Pemdes Banjar Bakal Siapkan APBDes untuk Lanjutkan Pelestarian Seni Budaya

Sumbawa Barat. Radio Arki – Pemerintah Desa (Pemdes) Banjar, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), berkomitmen melanjutkan program pelestarian seni dan budaya daerah melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

Langkah tersebut disiapkan sebagai tindak lanjut setelah berakhirnya Program Seniman Masuk Desa yang digagas Dinas Kebudayaan bersama Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) KSB.

Komitmen itu muncul sebagai upaya menjaga keberlangsungan seni budaya Sumbawa yang selama ini diperkenalkan kepada anak-anak dan remaja melalui pelatihan tari tradisional dan gong genang di Desa Banjar.

Kepala Desa Banjar, Ahmad Suiryo, menegaskan bahwa kegiatan pembinaan seni budaya tidak boleh berhenti setelah program berakhir.

Menurutnya, keberlanjutan program menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi sekaligus membentuk karakter generasi muda.

“Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti setelah program selesai. Ke depan akan kami upayakan masuk dalam program desa sehingga pembinaan seni budaya tetap berlanjut,” kata Ahmad Suiryo.

Ia menjelaskan, Pemdes Banjar akan berupaya mengakomodasi kegiatan tersebut dalam agenda pembangunan desa melalui APBDes.

Selain menjaga warisan budaya daerah, program tersebut juga dinilai mampu menjadi ruang positif bagi anak-anak dan remaja untuk mengembangkan potensi mereka.

Menurutnya, keberlanjutan program diharapkan dapat melahirkan pelatih-pelatih seni dari Desa Banjar sendiri. Dengan demikian, proses pembinaan tidak lagi bergantung pada pihak luar dan dapat terus berjalan secara mandiri.

“Harapannya nanti muncul pelatih-pelatih dari desa sendiri yang bisa meneruskan pembinaan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Pelatih tari tradisional, Leadya, menilai Program Seniman Masuk Desa merupakan langkah strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.

Ia menekankan bahwa pelestarian budaya harus dimulai dari generasi muda melalui proses pembelajaran yang berkesinambungan.

Menurutnya, keterlibatan anak-anak dalam kegiatan seni tradisional bukan sekadar belajar menari, tetapi juga mengenal identitas dan jati diri budaya daerah.

“Program ini sangat bagus karena menjadi salah satu upaya mempertahankan identitas daerah kita. Saya mengajar bukan semata-mata karena nilai ekonomi, tetapi karena kecintaan terhadap seni dan budaya,” ujarnya.

Leadya mengaku selama proses pelatihan lebih mengutamakan peningkatan kemampuan peserta.

Bahkan, ia telah membekali pendamping pelatih dengan berbagai teknik dasar dan metode pembelajaran tari agar proses transfer ilmu tetap berjalan meski dirinya tidak lagi mendampingi kegiatan tersebut.

“Saya ingin ketika suatu saat tidak lagi mengajar di sini, tetap ada yang melanjutkan pembinaan kepada anak-anak sehingga ilmu yang diberikan tidak berhenti begitu saja,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pelestarian budaya sangat bergantung pada kesiapan generasi penerus yang mampu menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Senada dengan itu, pelatih gong genang Hamdan menegaskan bahwa kesenian tradisional merupakan identitas masyarakat Sumbawa yang harus dijaga bersama.

Menurutnya, pengenalan budaya sejak usia dini menjadi langkah penting untuk menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap warisan daerah.

“Kegiatan seperti ini penting agar anak-anak mengenal dan mencintai budaya mereka sendiri. Jika tidak diperkenalkan sejak dini, dikhawatirkan kesenian tradisional akan semakin ditinggalkan,” katanya.

Hamdan menilai upaya pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau pelaku seni semata. Peran masyarakat, keluarga, hingga lingkungan sekitar sangat dibutuhkan agar kesenian daerah tetap eksis di tengah perkembangan zaman.

“Kesenian daerah harus dipertahankan karena merupakan identitas kita. Kalau bukan kita sendiri yang bergerak menjaganya, siapa lagi? Dan kalau bukan adik-adik kita hari ini yang belajar dan mencintainya, siapa lagi yang akan melestarikannya di masa depan,” tegasnya.

Ia berharap program pembinaan seni budaya yang menyasar generasi muda dapat terus berlanjut sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan kebudayaan Sumbawa.

Program Seniman Masuk Desa juga mendapat respons positif dari masyarakat, khususnya para orang tua peserta. Salah satunya disampaikan Aminah Minces, perwakilan orang tua peserta sekaligus Ketua AGR Desa Banjar.

Menurut Aminah, program tersebut memberikan manfaat besar karena tidak hanya mengajarkan keterampilan seni, tetapi juga mengenalkan nilai-nilai budaya dan tradisi daerah kepada anak-anak sejak dini.

“Kegiatan ini sangat positif. Anak-anak belajar tentang budaya, seni tradisional, dan mendapatkan pengalaman yang baik untuk perkembangan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, pendamping pelatih sekaligus Ketua Forum Muda-Mudi Desa Banjar, Jihan Ashar, mengaku memperoleh banyak pengalaman selama terlibat dalam kegiatan tersebut.

Ia berharap program serupa dapat terus dilaksanakan agar semakin banyak generasi muda yang berpartisipasi dalam upaya pelestarian budaya daerah. (Admin02.RadioArki)

Related posts

Inilah 11 Nota Kesepahaman Indonesia-Arab Saudi Saat Kunjungan Raja Salman

ArkiFM Friendly Radio

Dinas PUPR KSB Mengucapkan Selamat Hari Buruh Nasional

ArkiFM Friendly Radio

Press Release Akhir Tahun 2020, Kapolres KSB: Kamtibmas Kondusif

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page