Sumbawa Barat. Radio Arki — Penutupan event Jelajah Alam Sumbawa Barat (JAS) 3 yang berlangsung pada 15–16 November 2025 di Desa Seloto meninggalkan kisah impresif bagi para peserta.
Dua nama akhirnya keluar sebagai Raja Tanjakan Indonesia Timur 2025, yakni Made Sardika dari tim Ozzy Bali di kelas build up dan Mahfud dari tim Bima Sakti di kelas FFA. Keduanya berhasil menaklukkan jalur terberat yang menjadi ikon event tahunan tersebut.
Bagi Made Sardika, pengalaman berlaga di JAS 3 bukan sekadar soal kemenangan. Ia mengaku terpikat oleh suasana Desa Seloto, keramahan warganya, dan jalur trabas yang menantang namun tetap memanjakan mata.
“Jalur trabas yang disuguhkan Desa Seloto ini istimewa. Tahun depan saya pasti datang kembali,” ujarnya.
Event JAS memang dikenal memiliki trek yang unik dan berkarakter, mulai dari jalur bebatuan, tanjakan ekstrem, hingga pemandangan perbukitan yang menjadi magnet tersendiri bagi trabaser dari berbagai daerah di Indonesia.
Wakil Ketua DPRD Sumbawa Barat, Badaruddin Duri, yang hadir dalam closing ceremony memberikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan JAS 3 yang dianggap berhasil menarik perhatian nasional meski digerakkan oleh komunitas lokal.
“Pemerintah KSB patut berbangga. Meski hanya tim trabas kecil di tingkat desa, mereka mampu menyelenggarakan event berskala nasional. Pemerintah daerah harus mendukung, jangan tinggal diam,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa semangat gotong royong komunitas trabas Seloto telah menunjukkan kapasitas besar masyarakat dalam mengelola event berkelas tanpa ketergantungan penuh pada pemerintah.
Dalam kesempatan tersebut, Duri juga mengajak setiap peserta JAS 3, baik dari Bali, Bima, maupun daerah lain, untuk turut membantu mempromosikan keindahan Kabupaten Sumbawa Barat.
“Ceritakan hal-hal indah tentang Sumbawa Barat dan Desa Seloto. Tahun depan event JAS 4 harus lebih meriah, baik dari sisi hadiah maupun pelaksanaannya,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan event ini tidak hanya memperkenalkan Seloto sebagai destinasi trabas, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi promosi wisata, termasuk potensi kuliner lokal dan panorama alam yang masih alami.
Duri menegaskan bahwa Pemerintah Daerah tidak boleh melewatkan peluang besar dari kegiatan semacam JAS.
Event trabas terbukti memberikan multiplier effect yang signifikan, mulai dari meningkatnya kunjungan wisatawan, naiknya pendapatan pelaku UMKM, hingga tingginya okupansi hotel dan penginapan.
Menurutnya, keberlanjutan event JAS akan memberikan dampak ekonomi yang semakin luas apabila pemerintah memberikan dukungan penuh, baik berupa fasilitas, promosi, maupun kolaborasi lintas sektor. (Admin02.RadioArki)
