ARKIFMNEWSOLAH RAGA

Mengenal Yuri Hayashi, Pelatih Jepang di Balik Laju Impresif Atlet Panahan KSB

Foto: Coach Yuri saat mengevaluasi atlet usai pertandingan Porprov NTB. (Doc: Arkifm)

Sumbawa Barat. Radio Arki – Setiap kali anak panah dilepaskan atlet Sumbawa Barat di Lapangan Panahan KTC Taliwang, sepasang mata selalu mengikuti arah lajunya. Perempuan muda itu tak banyak bicara. Sesekali ia hanya mengangkat jempol, mengangguk pelan, atau memberi isyarat sederhana. Namun dari gestur yang tenang itulah lahir kepercayaan diri para atlet hingga mampu bersaing di arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII NTB 2026.

Namanya Yuri Hayashi. Ia datang dari Prefektur Aichi, Jepang, menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju sebuah kabupaten kecil di ujung barat Pulau Sumbawa. Tak ada hubungan darah, tak pula ikatan pekerjaan yang sejak awal mengharuskannya berada di sana. Yang membawanya datang hanyalah rasa ingin tahu, kecintaan pada olahraga panahan, dan keyakinan bahwa prestasi bisa tumbuh di mana saja, termasuk di daerah yang baru merintis pembinaan atlet.

Siapa sangka, di balik laju impresif tim panahan Kabupaten Sumbawa Barat, berdiri seorang pelatih perempuan berusia 27 tahun asal Negeri Sakura.

Baru tiga hari pertandingan berlangsung, kontingen panahan KSB sudah mengoleksi sembilan medali, terdiri dari empat emas, dua perak, dan tiga perunggu. Raihan itu bahkan diprediksi masih akan bertambah karena beberapa nomor pertandingan masih menyisakan peluang hingga 23 Juli mendatang.

Foto: Coach Yuri didampingi Coach Fauzan saat memberikan pengarahan kepada atlet KSB. (Doc: Arkifm)

Namun, bagi Yuri, medali hanyalah konsekuensi dari proses panjang yang dijalani dengan disiplin. Berawal dari Sebuah Pertemuan di Yogyakarta takdir mempertemukan Yuri dengan Muhammad Fauzan, Head Coach Panahan KSB, jauh sebelum keduanya berdiri bersama di lapangan panahan Taliwang.

Saat itu Fauzan sedang menempuh pendidikan kepelatihan olahraga di Yogyakarta dan bergabung di Klub Selabora FIKK Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tempat Yuri menjadi pelatih.

Di sanalah Yuri membimbing Fauzan. Hubungan pelatih dan atlet itu kemudian berkembang menjadi ruang diskusi yang panjang. Fauzan sering bercerita tentang panahan di Sumbawa Barat, sebuah daerah yang sedang berjuang membangun tradisi prestasi.

Cerita itu justru membuat Yuri penasaran. Ia ingin melihat sendiri bagaimana olahraga panahan tumbuh di luar Pulau Jawa. Keinginan itu bukan sekadar wacana. Yuri memutuskan datang ke Sumbawa Barat menggunakan biaya pribadinya.

“Saya ingin melihat langsung bagaimana perkembangan panahan di sini,” begitu kira-kira alasan sederhana yang membawanya melintasi negara dan pulau.

Melihat dedikasi Yuri, Perpani Sumbawa Barat kemudian mengajukan izin kepada UNY agar ia dapat mendampingi atlet-atlet daerah ini menghadapi Pelatda hingga Porprov XII NTB. Proses administrasinya tidak singkat. Sebab, saat itu Yuri masih terikat sebagai pelatih klub di UNY.

Namun setelah melalui berbagai tahapan, akhirnya perempuan kelahiran 24 Mei 1999 itu resmi menjadi bagian dari keluarga besar panahan Sumbawa Barat.

Foto: Coach Yuri Hayashi, pelatih panahan KSB asal Prefektur Aichi, Jepang, saat diwawancarai media arki. (Doc: Arkifm)

Membawa Disiplin Ala Jepang

Yuri bukan hanya mengajarkan bagaimana melepaskan anak panah dengan tepat. Ia membawa budaya latihan yang menempatkan konsistensi sebagai fondasi utama. Baginya, atlet hebat bukan dibentuk oleh bakat semata, melainkan oleh kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

Menurut Yuri, pola latihan yang diterapkan tim panahan KSB selama ini sudah berada di jalur yang benar. Teknik terus diasah, fisik juga mendapat perhatian serius. Namun jika ingin melangkah lebih jauh, intensitas latihan harus meningkat.

Di level internasional, kata Yuri, seorang atlet panahan bisa melepaskan 500 hingga 700 anak panah dalam sehari. Bahkan ketika fokus pada penyempurnaan teknik dan kestabilan mental, mereka tetap berlatih sekitar 200 hingga 300 anak panah setiap hari.

“Atlet memang perlu istirahat. Tapi jangan terlalu lama. Konsistensi adalah kunci,” ujarnya.

Melihat Masa Depan di Mata Atlet KSB

Di mata Yuri, potensi atlet panahan Sumbawa Barat jauh lebih besar daripada yang terlihat hari ini. Ia melihat anak-anak muda yang cepat memahami instruksi, mudah berkembang, dan memiliki etos latihan yang tinggi. Karena itu, ia optimistis Porprov bukanlah puncak perjalanan mereka.

“Potensi atlet panahan di Sumbawa Barat sangat bagus. Mereka cepat belajar dan sangat rajin latihan. Saya yakin mereka masih bisa menambah medali di Porprov ini,” katanya.

Lebih dari itu, Yuri percaya peluang atlet KSB menembus tim nasional bukan sesuatu yang mustahil. Dengan latihan yang konsisten setelah Porprov usai, serta pembinaan usia dini yang sudah cukup baik dari Perpani KSB, mereka bisa berbicara di tingkat nasional, bahkan internasional.

Foto: Coach Yuri saat memberikan latihan tambahan kepada atlet bernama Putra, usai meraih medali Perunggu Porprov NTB. (Doc: Arkifm)

“Semangat ini jangan berhenti setelah Porprov selesai. Kalau terus berlatih, mereka bisa masuk tim nasional dan suatu hari tampil di kejuaraan internasional,” Imbuhnya.

Meski memuji perkembangan atlet KSB, Yuri mengingatkan bahwa prestasi tidak bisa hanya bergantung pada semangat. Peralatan latihan juga harus berkembang seiring meningkatnya kemampuan atlet.

“Kalau ingin bicara di level yang lebih besar, peralatan harus terus ditingkatkan. Teknik atlet yang bagus akan menghasilkan prestasi yang lebih baik jika didukung perlengkapan yang berkualitas,” tuturnya.

Betah di Tanah Pariri Lema Bariri

Selama beberapa bulan tinggal di Sumbawa Barat, Yuri menemukan sesuatu yang tidak ia duga sebelumnya. Ia merasa diterima. Keramahan masyarakat, semangat atlet, hingga suasana daerah membuatnya merasa nyaman jauh dari kampung halamannya di Jepang.

Karena itu, ketika ditanya apakah bersedia kembali jika suatu saat diminta melatih lagi di Sumbawa Barat, jawabannya singkat. “Tentu saya senang. Saya betah dan nyaman di Sumbawa Barat,” ungkapnya.

Kalimat itu sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan harapan bahwa hubungan antara seorang pelatih dari Jepang dan para pemanah muda di Kabupaten Sumbawa Barat belum akan berakhir setelah Porprov XII NTB usai.

Sebab, di balik setiap anak panah yang menancap tepat di tengah sasaran, sesungguhnya sedang dibangun mimpi yang jauh lebih besar. (Admin02.RadioArki)

Related posts

Toto Ismono : Pembangunan Pasar Jereweh Diatas Tanah Serobotan ?

ArkiFM Friendly Radio

162 PPPK KSB Menerima Petikan SK Pengangkatan

ArkiFM Friendly Radio

Wabup: KSB Harus Menjadi Daerah Yang Bersahabat Dengan Anak

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page