Anisya Purnama Putri
[email protected] [email protected]
[email protected] [email protected] [email protected] [email protected]
ABSTRAK
Inggris: Leadership plays a crucial role in determining how an organization operates and achieves its goals. In the context of voluntary student organizations, particularly those in West Sumbawa, leadership is not only related to position, but also to a leader’s ability to build relationships, maintain member engagement, and consistently direct the organization. This study aims to understand the role of
leadership in organizational performance using a literature review approach through various leadership theories, such as transformational, transactional, and servant leadership. The results of the study indicate that organizational success is strongly influenced by how leaders manage their members and the dynamics within them. Leadership that encourages member participation, builds trust, and fosters a sense of belonging tends to result in better performance. In this case, transformational and servant leadership approaches are more appropriate because they are expected to be able to adapt to the character of student organizations in West Sumbawa. Meanwhile, approaches that focus too much on reward systems are less able to maintain long-term member engagement. However, in practice, there is still often a mismatch between the concept and its implementation of leadership. Problems such as ineffective communication, weak commitment, and declining member
participation are challenges that directly impact organizational performance. Therefore, more flexible leadership, capable of understanding situations, and
focused on member development are needed to ensure the organization’s sustainability.
Keywords: leadership, organizational performance, student organizations.
Abstrak
Indonesia : Kepemimpinan memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana suatu organisasi itu dapat berjalan dan mencapai tujuannya. Dalam konteks organisasi kemahasiswaan khususnya yang di Sumbawa barat bersifat sukarela, kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan jabatan, tetapi juga dengan kemampuannya seorang pemimpin dalam membangun suatu hubungan, menjaga
keterlibatan anggota nya, serta mengarahkan organisasi secara konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran kepemimpinan terhadap kinerja organisasi
dengan menggunakan pendekatan studi pustaka melalui berbagai teori kepemimpinan, seperti transformasional, transaksional, dan servant leadership.Hasil kajian menunjukkan bahwa keberhasilan organisasi sangat
dipengaruhi oleh bagaimana cara pemimpin itu mengelola anggota dan dinamika yang ada. Kepemimpinan yang mampu mendorong partisipasi anggota, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan rasa memiliki cenderung
menghasilkan kinerja yang lebih baik. Dalam hal ini, pendekatan transformasional dan servant leadership lebih sesuai untuk diterapkan karena di harapkan mampu
menyesuaikan dengan karakter organisasi kemahasiswaan yang ada di Sumbawa Barat. Sementara itu, pendekatan yang terlalu berfokus pada sistem imbal balik kurang mampu untuk menjaga keterlibatan anggota nya dalam jangka panjang. Namun, dalam praktiknya masih sering ditemukan ketidaksesuaian antara konsep dan juga tata pelaksanaannya suatu kepemimpinan. Permasalahan seperti komunikasi yang kurang efektif, lemahnya komitmen, serta menurunnya partisipasi anggota menjadi tantangan yang berdampak langsung pada kinerja organisasi. Oleh karena itu, diperlukan kepemimpinan yang lebih fleksibel, mampu membaca situasi, serta berorientasi pada pengembangan anggota agar organisasi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kata kunci: kepemimpinan, kinerja organisasi, organisasi kemahasiswaan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kepemimpinan seperti yang kita lihat memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu organisasi khususnya organisasi kemahasiswaan untuk menentukan adanya keberhasilan atau tidaknya dalam lingkup organisasi tersebut. Dimana Seorang pemimpin ini nantinya tidak hanya berfungsi pada pengarahan saja, namun juga harus dapat menjadi pemimpin yang membawa pengaruh (dalam
konteks yang baik) dan memberikan motivasi sebagai penyemangat anggota nya, serta harus dapat pula membangun suasana organisasi yang membuat anggotanya
mengerti akan tujuan nya. Karena Keberhasilan suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinannya. Menurut Hasibuan (2022:169). Seorang pemimpin harus dapat mendelegasikan tanggung jawab dan kekuasaan nya di sistem organisasi, agar program kerja atau cara kerja anggota yang di organisasi dapat melaksanakan tugas nya masing masing secara efektif. Tanpa adanya seorang pemimpin ini organisasi nantinya akan tidak teratur, tidak memiliki arah serta pastinya akan terjadi penurunan kinerja kerja organisasi sehingga seperti kehilangan arah seperti beberapa contoh kasus yang biasa kita liat dalam dunia organisasi kemahasiswaan. Contohnya kepemimpinan organisasi kemahasiswaan di wilayah sumbawa barat yang belum terlalu efektif dan relevan sehingga sering terjdinya rangkap jabatan yang dimana akan menyebabkan adanya pembagian periortas, penurunan kinerja kerja, serta keanggotaan yang semakin berkurang karena merasa tidak memiliki tujuan lagi di organisasi tersebut. Seperti yang kita liat biasanya suatu organisasi tanpa adanya pemimpin pasti tidak akan teratur. Seorang pemimpin itu harus mempunyai sifat yang adil pada organisasi nya tanpa membagi tugas ke
organisasi lain agar tanpa fokus mengembangkan dan memajukan organisasi yang di pimpin.
Kepemimpinan adalah bagaimana kemampuan seseorang itu dapat mempengaruhi suatu kelompok menuju capaian tujuan nya (Robbins, 2023). Era yang penuh dinamika seperti yang kita perhatikan sendiri, bagaimana kepemimpinan yang efektif kadang jarang ada yang bener bener efektif karena
organisasi pasti selalu mendapatkan intervensi dan di tuntutan untuk selalu bisa beradaptasi dalam aspek apapun contohnya dengan perubahan yang terjadi kita harus cepat beradaptasi dengan waktu yang terbilang singkat.
1.Namun kenyataannya, kita bisa saksikan sendiri bagaimana realitas nya di lapangan, bahwasanya tidak semua organisasi itu punya kualitas yang baik, bukan
hanya dari pemimpin tapi anggota nya juga, Fenomena yang krisis akankepemimpinan ini sering sekali muncul dalam kehidupan organisasi. Dimana pemimpin ini dalam mengelola suatu organisasi harus bener bener siap agar dapat optimal saat di pegang. Dapat kita lihat dari kurang jelasnya arah dan juga tujuan organisasi yang di pimpin, kurang nya komunikasi untuk membangun silaturahmi
yang terkadang menyebabkan miskom yang rasanya bukan hal lumrah lagi, dari situ dapat di pastikan akan adanya penurunan kinerja kerja di organisasi
kemahasiswaan tersebut.
2. Krisis akan kepemimpinan ini tidak mungkin muncul tanpa adanya penyebab, pastinya memiliki beberapa faktor yang dapat mempengaruhi, sepertidari sisi internal, contoh: rendahnya kompetensi atau kemampuan dari seorang
pemimpin itu sendiri, pengalaman yang sebenarnya belum cukup untuk memimpin
1 Stephen P. Robbins, Organizational Behavior, (New Jersey: Pearson Education, 2021).
2 Gary Yukl, Leadership in Organizations, (Boston: Pearson, 2021).dan sebagainya. Sementara itu, dari sisi eksternal, contoh pada perubahan lingkungan organisasi yang banyak sekali dinamis yang muncul yang jelas menjadi tantangan.
3. Akibatnya, muncul beberapa dampak yang di timbul kan dari krisis kepemimpinan ini, seperti di lingkungan organisasi pasti terjadi penurunan seperti yang di jelaskan sebelumnya yang berasal dari berbagai aspek, kurangnya
koordinasi karena pembagian prioritas yang biasanya menyebabkan anggota organisasi ini merasa kurang sehingga mengundurkan diri atau menghilang, karena
tidak mengerti akan tujuan dari organisasi tersebut.Berbagai kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki pengaruh yang kuat terhadap kinerja, baik secara
langsung maupun melalui faktor lain seperti motivasi dan komitmen kerja anggota.
4. Metode Penelitian
Penelitian ini di susun dengan pendekatan kualitatif yaitu melalui adanya studi pustaka dengan menempatkan literatur sebagai sumber utamanya untuk lebih mampu memahami persoalan yang di kaji dalam hal ini. Sedangkan fokus
penelitian tertuju pada bagaimana konsep kepemimpinan yang di mengerti memiliki keterkaitan dengan kinerja kerja organisasi sesuai dengan tema, khususnya dalam lingkup organisasikemahasiswaan Data yang di gunakan ini bukan dari studi lapangan yang di lakukan secara
langsung, namun dari berbagai hal yang dapat membantu, seperti dari jurnal, buku,
3 Peter F. Drucker, Management Challenges for the 21st Century, (New York: Harper Business,
2024).
4 Bernard M. Bass & Bruce J. Avolio, Improving Organizational Effectiveness through Transformational
Leadership, (California: Sage Publications, 2004). maupun artikel ilmiah yang sudah meneliti sebelumnya dab berkaitan dengan tema. Pemilihan sumber pastinya dengan pertimbangan dari beberapa aspek sesuai
dengan kebutuhan analisis. Pengumpulan dari data dalam hal ini melalui penelusuran, membaca, dan juga mencatat bagian bagian yang mungkin berkaitan dan penting dari setiap sumber untuk dapat di gunakan. Selanjutnya, data ini di kumpulkan dan di olah secara tertata yang kembali pada informasi yang di kumpulkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hakikat suatu Kepemimpinan dalam sebuah Organisasi
Dalam kajian organisasi, kepemimpinan sering kali di anggap sebagai faktor yang dimana akan menentukan antara keberhasilan atau tidaknya melalui pengaruh
yang memungkinkan untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan tidak hanya di maknai sebagai posisi formal, karena kepemimpinan juga adalah proses yang akan mempengaruhi suatu individu maupun kelompok agar tetap bergerak pada jalur nya untuk sampai pada satu tujuan.Dalam kajian organisasi, kepemimpinan dipandang sebagai faktor yang akan menentukan pengaruhi
keberhasilan atau malah kegagalan dalam mencapai tujuan tersebut. Kepemimpinan itu tidak hanya dimaknai sebagai posisi formal saja, akan tetapi juga sebagai suatu proses yang mempengaruhi perilaku individu maupun suatu kelompok agar dapat bergerak sesuai dengan tujuan bersama. Robbins menjelaskan bahwa kepemimpinan berkaitan erat dengan kemampuan mempengaruhi kelompok dalam mencapai target organisasi.
5. Beberapa perspektif pun menegaskan dan menjelaskan mengenai kepemimpinan itu adalah proses yang relasional yang pastinya melibatkan antara 5 Stephen P. Robbins & Timothy A. Judge, Organizational Behavior, 19th ed. (Pearson, 2023).dinamis, pemimpin dan anggota. Yukl juga menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh otoritas, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial yang terbangun dalam organisasi.
6. Dalam konteks organisasi kemahasiswaan, kepemimpinan pastinya memiliki karakteristik yang sangat cukup khas yang di dasar kan pada adanya partisipasi dari suatu individu. Oleh sebab itu, pendekatan kepemimpinan harus bener-bener mampu mengakomodasi kebutuhan anggota nya dan selalu harus menjaga keberlangsungan organisasi nantinya. Hasibuan menyatakan bahwa
pemimpin itu harus memiliki tanggung jawab dalam mengelola pembagian tugas, membangun komunikasi yang baik kepada anggota, serta menciptakan kondisi
organisasi yang mendukung efektivitas organisasi.
7
B. Perspektif Teoretis Kepemimpinan
- Kepemimpinan Transformasional
Pendekatan transformasional yaitu bagaimana dapat menempatkan seorang pemimpin sebagai agen yang membawa perubahan untuk membentuk karakter, cara pandang serta perilaku anggota nya agar lebih
terbuka atau transparan.Bass mengemukakan bahwa suatu kepemimpinan transformasional harus berfokus pada upaya meningkatkan kesadaran dan
juga komitmen anggota terhadap tujuan organisasi.8
Seorang pemimpin pastinya harus dapat menjadi inspirasi untuk mendorong adanya pemikiran kritis yang selalu memperhatikan kebutuhan anggota nya. Khususnya dalam organisasi kemahasiswaan, model ini di 6 Gary Yukl, Leadership in Organizations, 9th ed. (Pearson, 2020). 7 Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Bumi Aksara, 2022).
8 Bernard M. Bass & Ronald E. Riggio, Transformational Leadership, 2nd ed. (Psychology Press, 2006). anggap sangat efektif di sebabkan mampu membangun keterlibatan emosional anggota ke organisasi. - Kepemimpinan Transaksional
Dasarnya harus berasal dari aksi nyata yang bersifat timbal balik antara seorang pemimpin dengan anggota nya. Dalam kepemimpinan ini, memiliki peran yang lebih condong pada bagaimana caranya agar
seseorang yang menjadi pemimpin itu dapat mengatur sistem kerja yang pastinya harus jelas dari usaha atau kinerja anggota nya yang akan di cek. Burns menjelaskan bahwa pola hubungan seperti ini menjadi dasar dalam membangun keteraturan dalam organisasi. 9 Bass menguraikan bahwa praktik kepemimpinan transaksional umumnya berjalan melalui dua cara yang utama. Yang pertama, Seorang
pemimpin harus dapat memberikan apresiasi yang pastinya sebanding dengan apa yang di capai dari hasil kerja anggotanya. Yang ke dua Pemimpin tetap wajib melakukan pengawasan dalam setiap program kerja yang sedang berjalan dan akan turun tangan apabila terjadi kesalahan, penyimpangan atau telah keluar dari jalur yang telah di tentukan. Cara ini
dapat di lakukan secara langsung dengan pengawasan yang wajib aktif tentunya,atau secara tidak langsung dengan menunggu masalah muncul
sebelum mengambil tindakan.10 Dalam suatu kondisi tertentu, biasanya kepemimpinan ini merupakan salah satu cara yang akan di pilih karena di anggap
mempermudah dalam membantu berjalan nya suatu organisasi agar lebih tertib dan tertata. Model kepemimpinan ini juga dapat membuat anggota
9 Burns, J.M., Leadership (1978). 10 Bass, B.M., Transformational Leadership (2006).paham akan apa tugas yang di emban nya sebagai suatu tanggung jawab yang harus di pegang dan di laksanakan, serta menerima sanksi atau konsekuensi apabila tugas tersebut tidak terjalankan sesuai amanah yang
di berikan. Dalam hal ini berkaitan dan bersangkutan kepada kedisiplinan dan keteraturan dalam mengemban amanah, terutama jika amanah
tersebut memiliki pola yang jelas dan berulang.
Beberapa penelitian menunjukkan dan mengatakan bahwasanya kepemimpinan transaksional tetap mempunyai kontribusi terhadap kinerja
organisasi, apalagi dalam situasi yang menuntut adanya kepastian dan memiliki standar kerja yang jelas. Judge dan Piccolo menemukan bahwa
pendekatan ini memiliki hubungan positif dengan cara kerja yang di jalankan, meskipun pengaruhnya tidak sebesar kepemimpinan yang lebih bersifat inspiratif. 11 Di sisi lain, hal ini pun pastinya memiliki keterbatasan atau kekurangan. Karena jika terlalu bergantung pada adanya imbalan dan sanksi sebagai point utama, maka kepemimpinan ini terkadang atau sering kali tidak membangun adanya keterlibatan yang lebih jauh antara pemimpin dan anggotanya karena di anggap sebagai formalitas saja. Anggota mungkin melaksanakan tugasnya, tetapi rasa terhadap organisasinya itu sedikit. Dengan demikian, kepemimpinan ini sangat memiliki peran dalam
menjaga tatanan dan kejelasan yang lebih dalam pada organisasi. Namun pada organisasi kemahasiswaan, kepemimpinan perlu adanya
keseimbangan agar mampu mengcover atau menutupi untuk membangun keterlibatan, komunikasi dan rasa memiliki anggota terhadap organisasi.
11 Judge, T.A. & Piccolo, R.F., “Transformational and Transactional Leadership: A Meta-Analytic
Test,”
Journal of Applied Psychology (2004).C. Konsep Kinerja Organisasi dan Hubungan Kepemimpinan dan Kinerja Organisasi
` Keberlanjutan berjalan nya suatu organisasi harus menjadi tolak ukur dalam menilai pencapaian organisasi. Organisasi yang mampu berkonsisten dalam kegiatan yang sedang di jalankan untuk regenerasi kepemimpinan menunjukkan adanya kinerja yang berkembang dalam jangka panjang. Dari hal ini dapat di Simpul kan organisasi kemahasiswaan tidak hanya bersifat pada jangka pendek, namun jangka panjang juga yang juga berkaitan dengan keberlangsungan nya organisasi itu sendiri secara keseluruhan. Kaitan dengan kepemimpinan, beberapa kajian menunjukkan kepemimpinan adalah suatu peranan yang sangat signifikan dalam pengaruh kinerja kerja suatu organisasi. Kepemimpinan yang di anggap relatif pastinya mampu meningkatkan efisiensi anggota nya,membangun kepuasan dalam berorganisasi, serta komitmen yang di perkuat pada tujuan bersama.Northouse menyatakan bahwa
kepemimpinan berperan sebagai faktor penggerak utama yang menentukan bagaimana anggota organisasi bekerja dan berkontribusi.12 Penelitian oleh Judge dan Piccolo juga menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap kinerja, baik
pada tingkat individu maupun organisasi.13
Inspirasi, perhatian serta dorongan intelektual untuk membantu membangun karakter anggota harus di miliki seorang pemimpin. Agar dapat menghasilkan
anggota yang memiliki kinerja yang tinggi di bandingkan sistem kepemimpinan yang bersifat struktural
12 Northouse, P.G., Leadership: Theory and Practice (2019).
13 Judge, T.A. & Piccolo, R.F., Journal of Applied Psychology (2004).Kepemimpinan secara tidak langsung berpengaruh terhadap kinerja variabel
mediasi, contohnya motivasi, kepuasan dalam menjalankan tugas, serta komitmen dalan berorganisasi. Robbins dan Judge menjelaskan bahwa pemimpin yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang positif akan mendorong anggota untuk bekerja lebih optimal dan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih tinggi terhadap
organisasi.14 Dengan demikian, di Simpulkan kinerja suatu organisasi itu tidak dapat di lepaskan begitu saja tetapi harus memiliki kualitas kepemimpinan di dalam nya sebagai struktur. Kepemimpinan ini hrus bisa menjadi penggerak utama sebagai fungsi agar dalam mempengaruhi dapat berjalan dengan baik dari segi apapun. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan sebelumnya yang telah diuraikan, kepemimpinan \struktur organisasi, melainkan sebagai praktik yang nyata yang tercermin dalam kemampuan seorang pemimpin mengelola sebuah hubungan, mengambil keputusan di organisasi, serta menjaga arah gerak organisasi itu sendiri. Dalam konteks organisasi kemahasiswaan, efektivitas kepemimpinan sangat ditentukan oleh adanya kemampuan seorang pemimpin dalam menyesuaikan pendekatan dengan karakter anggota nya yang bersifat sukarela dan dinamis. Namun walaupun demikian, realitas yang terjadi pada organisasi kemahasiswaan di wilayah Sumbawa Barat contohnya, menunjukkan bahwa
adanya kesenjangan antara konsep ideal kepemimpinan dan praktik di lapangan.
seperti rangkap jabatan yang sering terjadi, lemahnya pembagian prioritas, serta menurunnya partisipasi anggota mengindikasikan bahwa kepemimpinan belum dijalankan secara optimal. Kondisi ini tidak hanya mencerminkan adanya keterbatasan pada aspek teknis manajerial, tetapi juga menunjukkan lemahnya
14 Robbins, S.P. & Judge, T.A., Organizational Behavior (2023komitmen dan ketidakmampuan nya dalam membangun kepercayaan serta komunikasi yang efektif di dalam organisasi. Jika dikaji secara teoretis, pendekatan kepemimpinan transformasional ini menekankan pada pembangunan kesadaran dan komitmen para anggota yang sebenarnya relevan untuk diterapkan dalam organisasi kemahasiswaan itu sendiri sebagai solusi. Namun, dalam praktiknya, pendekatan tersebut sering kali tidak terimplementasi secara konsisten seperti yang terlihat, sehingga hanya berhenti pada tataran normatif. Di sisi lain, penggunaan pendekatan transaksional dalam konteks organisasi yang tidak berbasis keuntungan cenderung tidak efektif, karena ketidak mampuan nya dalam mendorong keterlibatan emosional anggota. Sementara itu, pendekatan yang berorientasi pada pelayanan memiliki potensi untuk lebih memperkuat keterikatan anggota, tetapi tetap membutuhkan adanya keseimbangan agar fungsi kontrol organisasi tidak menurun atau melemah. Dampak dari lemahnya kepemimpinan tersebut terlihat secara langsung pada kinerja organisasi. Menurunnya keaktifan anggota itu sendiri, kurangnya koordinasi di organisasi, serta tidak tercapainya tujuan dari organisasi tersebut yang menjadi indikator bahwa kepemimpinan belum mampu berfungsi sebagaimana mestinya sebagai penggerak utama organisasi. Hal ini menegaskan bahwa hubungan antara kepemimpinan dan kinerja bukan hanya saja bersifat teoritis, tetapi
juga merupakan hubungan yang nyata dan sangat dipengaruhi oleh konteks sosial
organisasi itu sendiri. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama
kepemimpinan dalam organisasi kemahasiswaan di Sumbawa Barat tidak terletak pada kurangnya konsep atau teori yang digunakan, melainkan pada
ketidakmampuan dalam mengaktualisasikan kepemimpinan secara konsisten dan kontekstual. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk membangun pola kepemimpinan yang lebih adaptif, berorientasi pada pengembangan anggota, serta mampu menjaga fokus dan komitmen organisasi, sehingga organisasi
kemahasiswaan dapat berjalan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Bass, B. M. (2006). Transformational Leadership. Mahwah, NJ: Lawrence
Erlbaum Associates.
Bass, B. M., & Avolio, B. J. (2004). Improving Organizational Effectiveness
through Transformational Leadership. Thousand Oaks, CA: Sage
Publications.
Bass, B. M., & Riggio, R. E. (2006). Transformational Leadership (2nd ed.).
Mahwah, NJ: Psychology Press.
Burns, J. M. (1978). Leadership. New York: Harper & Row.
Drucker, P. F. (2024). Management Challenges for the 21st Century. New York:
Harper Business.
Hasibuan, M. S. P. (2022). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi
Aksara.
Judge, T. A., & Piccolo, R. F. (2004). Transformational and transactional
leadership: A meta-analytic test. Journal of Applied Psychology, 89(5),
755–768.
Northouse, P. G. (2019). Leadership: Theory and Practice. Thousand Oaks, CA:
Sage Publications.
Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2023). Organizational Behavior (19th ed.).
Pearson.Robbins, S. P. (2021). Organizational Behavior. New Jersey: Pearson Education.
Yukl, G. (2020). Leadership in Organizations (9th ed.). Pearson.
Yukl, G. (2021). Leadership in Organizations. Boston: Pearson.
