NEWS

Tak Lagi Bergantung pada Pupuk Kimia, Petani Maluk Panen Hingga 7 Ton per Hektare

Keterangan : Kondisi tanaman di demplot pertanian organik, desa Benete yang merupakan binaan AMMAN saat sedang akan dilakukan pengecekan kondisi tanaman sebelum panen (sumber: arkifm.com)

Sumbawa Barat. Radio Arki – Perubahan pola bertani mulai terlihat di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Petani yang sebelumnya bergantung pada pupuk kimia kini beralih ke sistem pertanian organik. Hasilnya tidak main-main, produktivitas panen mampu menembus hingga 7 ton per hektare.

Peralihan ini tidak terjadi secara instan. Dalam beberapa tahun terakhir, petani di wilayah tersebut menghadapi berbagai persoalan, mulai dari tingginya biaya produksi akibat ketergantungan pada pupuk kimia hingga menurunnya kualitas tanah yang berdampak pada hasil panen. Namun sejak Agustus 2025, kondisi itu berubah, melalui pendampingan AMMAN dengan program Pertanian Organik di salah satu demplot kelompok pertanian di desa Benete dan Maluk, produktifitas pertanian di tempat itu menunjukkan capaian signifikan. Dari lahan seluas 1,50 hektare pada salah satu demplot di Desa Maluk, produktivitas mencapai rata-rata 7,34 ton per hektare dibandingkan metode konvensional yang sebelumnya berkisar 5 ton per hektare.

Program dampingan AMMAN ini merupakan bagian dari Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Program ini diharapkan juga dapat memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal, sekaligus menjawab persoalan klasik sektor pertanian, yakni tingginya biaya produksi dan menurunnya kualitas lahan.

Keterangan : Ketua Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk, Hamzah Hasan (kanan) saat sedang menunjukan kondisi bulir padi hasil budidaya dengan pertanian organik (sumber: arkifm.com)

Senior Manajer Impact, Aji Suryanto, menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat di Kecamatan Maluk. Namun, ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida sintetis selama ini justru menjadi beban tersendiri bagi petani.

“Karena itu, kami mendorong pendekatan alternatif melalui System of Rice Intensification (SRI) Organik yang terintegrasi dengan konsep pertanian sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” ujarnya saat kunjungan lapangan di Desa Benete, Sabtu (11/4).

Dari Keraguan Menuju Bukti Nyata

Pendekatan yang diterapkan tidak hanya menyentuh aspek teknis budidaya, tetapi juga mengubah cara berpikir petani. Bersama mitra pelaksana, petani didorong untuk memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber utama nutrisi tanaman.

Fasilitator lapangan dari Aliksa Organik Consultant, Yogi Ahmad menyebut metode ini lebih efisien dan menyehatkan karena petani tidak lagi bergantung pada input mahal dari luar yang mengandung bahan kimia. Sebaliknya, mereka mampu memproduksi kebutuhan pertanian secara mandiri. Petani juga dilatih menjadi lebih adaptif dengan potensi lingkungannya, termasuk juga harus mampu membaca kondisi tanaman, mengelola air, menentukan pola pemupukan, hingga mengendalikan hama secara alami.

“Intinya apa yang menjadi masalah selama ini (sampah), kini dapat menjadi bahan kompos yang dimanfaatkan dan tanpa menggunakan pestisida,” jelasnya.

Perubahan tersebut tidak lepas dari tantangan. Ketua Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk, Hamzah Hasan, mengungkapkan bahwa pada tahap awal, metode yang diterapkan sempat diragukan oleh masyarakat dan tak sedikit yang mencibir.

“Awalnya banyak yang menganggap kami main-main, karena cara yang kami lakukan berbeda dari kebiasaan,” ujarnya.

Namun, petani yang tergabung dalam kelompok tani binaan AMMAN itu memilih untuk tetap fokus bekerja. Hasilnya kini mulai terlihat dan diakui. Setelah memasuki masa panen, petani lain yang masih menggunakan metode konvensional mulai mengakui keberhasilan pendekatan organik tersebut. Ia pun menegaskan bahwa keberhasilan tersebut bukan ditentukan oleh faktor bibit, melainkan oleh proses budidaya yang dilakukan secara konsisten.

“Kami yakin ke depan, dengan atau tanpa pendampingan, kelompok ini akan tetap berjalan. Apalagi jika nantinya terdapat pendampignan sertifikasi produk serta penguatan akses pasar bagi komoditas turunan seperti kompos, mikroorganisme lokal (MOL), dan sayuran organik,”harapnya.

Keterangan : Petugas POPT, Wulandari saat sedang melakukan penjelasan tentang pola analisa kondisi tanaman di demplot Desa Benete (sumber: arkifm.com)

Selain peningkatan produksi, perbaikan kualitas lingkungan juga terlihat nyata. Tanah yang sebelumnya keras dan bersifat asam (pH 5,5) kini menjadi lebih gembur, kaya bahan organik, dan mendekati netral (pH 7). Praktik pembakaran jerami pun mulai ditinggalkan dan digantikan dengan pengolahan menjadi kompos.

Sementara itu, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di Kecamatan Maluk dari Kementerian Pertanian RI, Wulandari, memandang program tersebut sebagai praktik baik yang berpotensi untuk direplikasi. Ia menilai, keberhasilan yang dicapai tidak hanya ditopang oleh pola kemitraan yang terbangun, tetapi juga oleh komitmen kelompok tani dalam menerapkan budidaya pertanian organik secara konsisten.

Menurutnya, pendekatan organik mendorong petani untuk lebih cermat dalam memahami ekosistem lahannya, termasuk keberadaan hama dan berbagai biota lain yang sering kali justru memiliki peran dalam mendukung pertumbuhan tanaman apabila dikelola dengan tepat.

Pandangan tersebut selaras dengan pengalaman yang dirasakan langsung oleh petani setempat, Umar Patahollah. Ia mengungkapkan bahwa program ini menjadi titik balik dalam praktik budidaya yang dijalaninya. Jika sebelumnya ia kerap menghadapi kegagalan panen akibat rendahnya produktivitas lahan, kini hasil yang diperoleh menunjukkan peningkatan yang signifikan, bahkan dengan biaya produksi yang lebih efisien.

“Saya tidak menyangka hasilnya bisa seperti ini. Dulu banyak yang meragukan, sekarang justru banyak yang ingin ikut,” tuturnya. (Adv/Admin01. Radio Arki)

Related posts

Berita Duka Meninggalnya Bapak Kusumayadi, ST., SKM, MM, MARS (Kadis Damkar KSB)

ArkiFM Friendly Radio

Wabup Fud Serukan Perlindungan dan Dukungan Bagi Para Muallaf

ArkiFM Friendly Radio

Jawab Fraksi DPRD, Pemkab KSB Paparkan Strategi Perkuat PAD hingga Optimalkan Belanja Daerah

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment

You cannot copy content of this page