ARTIKEL

Dari Belatung Dapat Untung (1)

Syamsul, salah satu pembudidaya maggot sedang memilah maggot kering sebelum dikemas, di Posyantek Kompi Handal Kelurahan Dalam Taliwang, Rabu (8/12). Foto/arkifm/Khairuddin

Oleh: Khairuddin

Ulat yang biasanya dijauhi manusia, karena menjijikan dan rentan menyebarkan penyakit, oleh Kelompok Swadaya Masyarakat Komunitas Peduli Kelurahan Dalam (KSM Kompi Handal) malah dibudidayakan. Sejak bulan Mei 2021 lalu, kelompok yang beranggotakan 4 orang itu mencoba membudidaya maggot atau belatung yang berasal dari lalat tentara hitam. Budidaya maggot diyakini menjadi salah satu solusi dalam menangani persoalan sampah organik di Kota Taliwang.

Bermodalkan dana swadaya, Kelompok yang diketuai oleh Iksan Ismail itu mulai merintis budidaya maggot yang berlokasi di Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) Kelurahan Dalam. Memulai hal yang baru tentu tidaklah mudah. Modal pengetahuan budidaya maggot pun, hanya mengandalkan informasi di google dan kanal youtube yang memuat cerita sukses menggeluti usaha yang sama di beberapa tempat, serta berhasil menjadi pakan primadona bagi pengusaha ikan air tawar dan unggas.

Penulis mencoba mendatangi lokasi budidaya maggot, Selasa (7/12/21). Lokasi yang dikelilingi oleh hamparan sawah dan berdekatan dengan Pasar Taliwang itu, menjadi tempat yang refresentatif. Jauh dari pemukiman memang menjadi modal penting. Mengingat, budidaya maggot membutuhkan lokasi khusus yang jauh dari hiruk pikuk keramaian. Belum lagi pertimbangan sirkulasi pengangkutan sampah organic dari pasar ke lokasi budidaya setiap hari, yang terkadang tidak terlepas dari aroma busuk menyengat.

Ketua KSM Kompi Handal, Iksan Ismail menceritakan awal mula budidaya maggot yang kini ia tekuni bersama kelompoknya. Kondisi sampah yang terus bertambah dari tahun ke tahun, menjadi alasan utama ia berinisiatif mengelolah sampah hingga bernilai ekonomis. Pengelolaan sampah awalnya fokus pada pembuatan pupuk kompos. Dalam perjalananya, produksi kompos ternyata tidak mendapatkan pasar yang baik di Kota Taliwang. Padahal operasional kelompok terus membengkak dan tidak sebanding dengan pendapatan.

“Berdasarkan masukan dari kolega kami di KSM yang berada di Kabupaten Garut. Akhirnya kami diberikan peluang pasar yang menjanjikan untuk pengelolaan sampah organic yang disinergikan dengan budidaya maggot. Itu yang menjadi dasar utama kami memulai budidaya maggot,” tutur Iksan Ismail, sembari memperlihatkan kemasan maggot kering yang siap jual.

Maggot kering yang telah dikemas, siap dipasarkan. Foto/arkifm/Khairuddin

Siapa yang tidak tergiur dengan tawaran itu. Bayangkan saja, harga maggot kering dibanderol dengan harga 50 ribu perkilo. Dalam hitungan usaha, itu bisa menjadi peluang yang bagus untuk mendatangkan income. Sehingga untuk sekedar bicara operasional, tidak perlu pusing pusing lagi cari kesana kemari. Akhirnya dari semangat itu pula, secara swadaya KSM Kompi Handal nekat merogoh kocek hingga 40 juta untuk modal utama, seperti membuat tempat pembibitan, apiary, tempat bertelur, beberapa perangkat pendukung lainnya, hingga membeli bibit di luar daerah.

“Awalnya kami optimis, dapat pangsa pasar dengan kebutuhan 50 Kg maggot kering perbulan merupakan ‘angin segar’ bagi pembudidaya sekelas pemula. Dengan jumlah biopon sebanyak 7 buah, target 50 Kg perbulan bukanlah suatu hal yang mustahil. Tapi dalam prosesnya, ternyata ada istilah penyusutan berat, karena usia maksimal maggot di panen itu pada saat berusia 21 hari. Jika terlalu lama dipanen, maka berat akan semakin berkurang dan berubah bentuk menjadi larva. Ketika dipanen tepat waktu juga, ternyata berat masih bisa berkurang ketika disangrai. Parahnya lagi, proses sangrai bisa mengurangi berat hingga 70 persen berat awal,” ungkap pria 50 tahun itu.

Ada pelajaran berharga dari proses itu. Dimana literatur yang didapatkan dari google, ternyata tidak semuanya relevan ketika dicoba langsung. Akhirnya jadi serba salah, mau menjual maggot basah, pasarnya di Kota Taliwang tidak ada. Mau jual yang kering, juga masih belum bisa menjangkau target. Karena dalam kurun waktu 6 bulan saja, maggot kering yang dihasilkan baru berkisar di angka kurang lebih 40 Kg. dari jumlah maggot itu saja, sudah menghabiskan sampah organik sebanyak 2 ton dalam kurun waktu 6 bulan.

“Sekarang kami sedang mencoba hal yang baru. Dimana kami sedang merancang ransum makanan ternak dengan maggot yang kering, karena maggot proteinnya bagus. Ransum yang sedang diujicoba ini, merupakan ransum yang bisa diawetkan. Selain itu, kita juga berupaya meningkatkan biomassa maggot dengan pemilahan sampah organik sebagai pakannya. Jika biomassanya meningkat, maka secara otomatis juga pembudidaya diuntungkan. Konsep konsep pengembangan kita selalu terapkan, meski secara garis besar proses budidaya maggot masih ada saja kekurangannya. Kedepan kami yakin bisa berhasil membudidaya belatung dan mendatangkan keuntungan. Sekaligus menjadi solusi akan persoalan sampah,” tandasnya.

Related posts

Menanti Formulasi Kebijakan Pemda Pasca Komitmen Tujuan Global

ArkiFM Friendly Radio

Refleksi International Womans Day: UU Perkawinan dan UU ITE Perlu Direvisi Kembali

ArkiFM Friendly Radio

Sumbawa Barat Darurat Narkoba; Putus Mata Rantai dan Lakukan Pembinaan

ArkiFM Friendly Radio