ARKIFM NEWS

Harga Gabah di Sawah Seputaran KTC Merosot Hingga Rp.3.200/Kg

Foto: Seorang petani saat menunggu pembeli mengambil gabahnya, di Tamere Menala, Sabtu (12/3).

Sumbawa Barat. Radio Arki – Harga beli gabah di sawah seputaran Kompleks Kamutar Telu Center (KTC) Sumbawa Barat, merosot hingga Rp.3.200/Kg. Harga tersebut jauh dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sesuai Permendag 24 tahun 2020, yaitu untuk gabah kering panen sebesar Rp. 4.200/Kg. Pembelian gabah di panen musim tanam pertama tahun ini, merupakan harga paling rendah sejak Bulog beroperasi di Sumbawa Barat.

Abdul, petani asal Kelurahan Menala mengaku dilema saat musim panen tiba. Disatu sisi, dia tidak mau menjual gabahnya lantaran harga yang terlalu rendah. Disisi lainnya, dia membutuhkan uang untuk keberlangsungan kehidupan sehari hari. “Mau bagaimana lagi mas, kalau tidak dijual juga tidak ada tempat penyimpanan. Terpaksa kita jual saja, meski harganya tidak normal,” tutur pria paru baya ini.

Ditengah harga gabah yang semakin anjlok, Abdul menyanyangkan langkah Pemerintah Daerah yang tidak mampu mencari solusi terkait persoalan tersebut. Padahal, persoalan harga gabah selalu terjadi setiap musim panen tiba.

“Kita sayangkan saja. Petani selalu diminta panen di waktu yang tepat, agar lebih maksimal hasil termasuk harganya. Katanya, agar kadar airnya lebih sedikit. Namun ajakan itu tidak didukung dengan penyerapan gabah di tingkat petani. Tetap saja namanya tidak ada solusi, padahal dari dulu juga kami selalu panen sesuai usia panen yang seharusnya,” sesal Abdul.

Sama dengan Abdul, Jamal petani lainnya juga menjual gabahnya dengan harga Rp.3.200/Kg ke tengkulak. Ia terpaksa menjual gabahnya lantaran tidak memiliki alternatif lain. Hasil panen cukup melimpah, tapi terbatas yang mau beli karena alasan Gudang sudah full.

“Itu saja meski dengan harga rendah, syukur masih ada yang mau beli. Kami sudah mutar kesana kemari untuk mencari pembeli, tapi gak ada yang bersedia. Akhirnya kita ketemu pembeli, meski harganya sangat rendah, tetap kita jual daripada gabah terlantar,” tutur Jamal dengan mata berkaca kaca.

Pria paruh baya itu menyadari, meski keuntungan dari bertani tidak seberapa. Ia Bersama keluarganya tetap melakoninya. Walaupun begitu, ia tetap berharap besar Pemerintah Daerah bisa mencari solusi jitu ditengah tingginya biaya perawatan padi, yang justru tidak seimbang dengan harga gabah yang rendah.

“Panen kali ini kami pasrah dengan kondisi ini. Kedepan, pemerintah harus cari cara lain agar masalah ini tidak semakin memburuk setiap panen tiba. Apalagi nanti ketika Bendungan Bintang Bano dan Bendungan Tiu Suntuk beroperasi. Kita akan selalu panen serempak, dan kalau kita tidak siap, maka harga gabah akan semakin anjlok,” tukasnya.

Sebelumnya, Sekda Sumbawa Barat Amar Nurmansyah bersama rombongan turun lapangan melihat dan mendengar langsung keluhan para petani di Desa Lamuntet, pada Jumat (11/3). Dihadapan petani, Sekda berjanji, permasalahan harga gabah petani ini akan dicarikan solusinya dari hulu ke hilir. Dalam kesempatan itu juga, Sekda menyebutkan bahwa Pemda telah menyediakan dana talangan sebanyak 2 Miliar, yang skema penyalurannya melalui Perusda. (Enk. Radio Arki)

Related posts

LIVOPMA III Sumbawa Barat Bakal Digalakkan Untuk Hasilkan Bibit Atlet

ArkiFM Friendly Radio

Jumpa Napoli, Zinedine Zidane Andalkan ‘Kecerdasan’

Pemdes Didorong Kembangkan Destinasi Wisata di Desanya

ArkiFM Friendly Radio