ARTIKEL

DEA GURU

“Meneguhkan kembali Identitas Ulama Sumbawa”

Biasanya pada subuh menjelang terbitnya matahari di ufuk timur, para murid sudah berada pada posisi melingkar duduk bersila, kemudian sang guru berada pada posisi tengah sambil menggilir satu demi satu murid datang menghadap menuntaskan lembar demi lembar bacaan iqro (dahulunya disebut qeroan ode/quran kecil) , dan Al-quran (Qeroan rango) untuk selanjutnya di salin. Suara mengaji mendayu-dayu gayung bersambut dengan suara ayam berkokok. Suasana menjemput datangnya waktu pagi tersebut berlangsung biasanya di rumah-rumah ngaji, langgar, surau, tempat anak-anak menimba ilmu Al-Quran. Sosok yang menjadi symbol kepatuhan yang selalu melekat di memori anak-anak era 1980-an kebawah yaitu ne guru atau dea guru atau guru yang mengajarkan Al-Quran beserta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Sosok dengan penuh ketegasan, disegani, dihormati penuh dedikasi dan loyalitas mengajarkan murid-muridnya hingga pandai mengaji.

Dea guru dalam masyarakat Sumbawa adalah sebuah identitas yang disematkan kepada orang yang mengabdikan hidupnya secara total untuk mengajar Al-Quran. Di daerah lain, kita juga mengenal gelar-gelar Islam yang disematkan kepada tokoh berpengaruh seperti: gelar Anjengan tang disematkan bagi ulama di Jawa Barat (Sunda) dan biasa disematkan pada para ahli agama yang telah menempuh pendidikan Islam selama belasan tahun dan yang telah mencapai tingkat tajrid (pencapaian tingkat hidup dan kehidupan yang mantap dan mapan baik jasmani maupun rohaniah). Dalam masyarakat Sumatera Barat kita mengenal istilah Buya, yang berasal dari bahasa Arab, abi atau abuya yang berarti ayahku atau seseorang yang dihormati. Di tanah Jawa kita mengenal istilah Kyai yaitu gelar yang diberikan kepada mereka yang memiliki pengikut/santri dan memiliki lembaga yang disebut pondok pesanteren. Kita juga mengenal istilah Gus, yang semula gelar ini hanya berlaku di kalangan pesantren dan merupakan kependekan dari “bagus”. Panggilan ini ditujukan kepada anak kyai. Di tanah Aceh kita mengenal dengan istilah Teungku, Guree yang berarti guru, dan memiliki makna sama dengan Gurutta di Sulawesi. 

Masih banyak lagi gelar-gelar ulama yang ada di pulau Jawa seperti istilah Panembahan, Panrita, wali, sunan, Tuan guru, Nyai, Datu/Dato, sidi, dan masih banyak lagi gelar-gelar Islam yang menjadi identitas ulama-ulama kita. Mereka yang dulunya pernah mendapat sematan gelar tersebut tercatat bukan saja karena perjuangannya dalam mengislamkan Nusantara tetapi juga memiliki andil besar dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Pada prinsipnya penyematan gelar tersebut diatas adalah pemberian yang dikarenakan ketokohan dan prestrasinya dalam perjuangan dakwah Islam.

Identitas Dea guru bukan saja berbicara tentang makna secara etimologis, tetapi lebih dari itu secara historis sebagai faktor pembentuk istilah, ia memiliki makna mendalam dan sakral dikalangan masyarakat Sumbawa. Masyarakat yang ingin belajar mengaji maka akan mendatangi dea guru, masyarakat yang ingin bertanya tentang pelaksanaan ibadah wajib maupun Sunnah maka akan mendatangi dea guru, demikian hal-hal lainnya yang berkenaan dengan muamalah di dalam lingkungan masyarakat. Dalam status sosial masyarakat suku Sumbawa, gelar dea dalam sistem pranata sosial mendapat tempat istimewa dan khusus, yaitu merupakan golongan kelas pertama yang terdiri dari para bangsawan, raja beserta keluarganya. Jika disandingkan antara kata dea dan kata guru dan menjadi dea guru, maka kesatuannya memiliki arti guru yang istimewa. Istilah dea guru hanya kita dapat ditemukan pada suku Sumbawa, seperti yang pernah disematkan kepada ulama besar keturunan Sumbawa yaitu Syaikh Muhammad Zainuddin bin Muhammad Badawi as-Sumbawi atau kita kenal dengan Dea Guru Muhammad Zainuddin As-Sumbawi.

Di era kekinian, identitas seperti ini sangat dibutuhkan dalam rangka menegaskan posisi ulama dalam memperkuat syiar Islam ditengah masyarakat. Dalam metode dakwah seperti yang tersurat di dalam Al Qur an Surat An-Nahl ayat 125, kita kenal yang namanya tiga metode yaitu 1)Metode Al-Hikmah (dengan hikmah), 2) Metode Mau’idrah Hasanah (dengan pelajaran yang baik), 3) Metode Al-Mujadalah Bi-al-Lati Hiya Ahsan (bantahlah mereka dengan cara yang baik). Untuk melahirkan generasi-generasi pendakwah dimasa yang akan datang,  dari ke-tiga metode tersebut tidak mungkin pengajaran Al-Quran beserta nilai-nilai yang terkandung didalamnya akan kita serahkan kepada mereka para pengajar yang baru belajar tentang agama. Dalam ilmu akhlak misalnya, untuk membentuk karakter umat dengan tata krama dan sopan santun yang sesuai dicontohkan baginda Rasulullah, maka sang guru haruslah tampil mencontohkan terlebih dahulu, maka dengan sendirinya karakter murid akan terbentuk secara perlahan-lahan melalui faktor keteladanan.  

Peneguhan kembali identitas dea guru ditengah masyarakat suku Sumbawa, bukan dalam rangka menggiring narasi feodalistik dalam hubungan sosial kemasyarakatan, tetapi dengan kesadaran bersama bahwa pengakuan tersebut adalah semata mata untuk menempatkan ketokohan ulama sebagai simbol kepatuhan masyarakat dalam menjalankan perintah agama. Peneguhan identitas ini menjadi penting sebagai bagian dari tuntutan zaman dalam mengahdapi era industry 4.0. Globalisasi ada dalam genggaman, hanya dengan sepersekian detik kecepatan laju perubahan zaman ini menjadi tantangan bagi umat muslim. Globalisasi telah menempatkan media elektronik sebagai sarana ampuh dalam distribusi informasi dan pembentukan public opinion. Dengan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang secara terus menerus mengeksplorasi alam dan lingkungan, maka tingkat rekayasa manipulasi terhadap alam juga akan semakin luas dan tak terbantahkan hingga mencapai wilayah yang tak terbayangkan sebelumnya. Ekspansi industrialisasi, media komunikasi dan informasi sebagai puncak aplikasi ilmu pengetahuan terapan tidak lagi mengenal batas antara kota dan desa, dan semuanya telah menghantarkan proses globalisasi semakin cepat serta menciptakan ketergantungan yang semakin parah. Industrialisasi masih akan memainkan peran yang dominant, sementara umat manusia dituntut harus berlomba-lomba mengejar ketertinggalan, ketertindasan negara adidaya dalam keadaan yang tidak berdaya. Generasi muslim harus tampil menjawab semuanya, dituntut untuk memiliki karakter dan integritas. Sementara karakter dan integritas hanya bisa dibangun melalui kepatuhan. Kepatuhan murid terhadap gurunya, kepatuhan anak terhadap orang tuanya, kepatuhan masyarakat terhadap pemimpinnya. 

Perlunya memperteguh ketokohan ulama dalam dinamika kehidupan sosial masyarakat, berkorelasi positif dengan sikap kepatuhan yang coba kita hubungkan dengan nilai-nilai spiritual yang dibangun oleh para pendahulu kita zaman dahulu dalam lembaga-lembaga formal Islam yang berbasis di langgar, surau, mushallah, masjid dan guru-guru ngaji yang memegang peran penting dalam menancapkan akhlaqulkarimah kepada generasi Islam. Hari ini sikap kepatuhan sepertinya sudah mulai terdegradasi, dan jarang sekali kita temukan etika, tata krama yang dipertunjukkan oleh anak-anak milenial, bagaimana sikap menghormai orang tua, dan guru. Tentu ini menjadi masalah besar dan bagaimana kita harus mengembalikan nilai-nilai yang sudah mulai terkubur tersebut, agar generasi mendatang ini tidak terjerumus ke dalam kesesatan.

Untuk menuju hal tersebut, nampaknya tidak berlebihan jika kita melakukan upaya-upaya nyata yang tentunya harus mendapat respon yang baik dikalangan masyarakat, misalnya: 1) Membangun kesadaran bersama masyarakat tentang pentingnya ketokohan ulama didalam kehidupan bermasyarakat, 2) Menentukan kriteria-kriteria khusus yang dapat digunakan dalam penyematan seorang ulama yang patut menyandang gelar dea guru, 3) Pemerintah Daerah bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan apresiasi yang tinggi kepada mereka para ulama yang telah terbukti secara jelas mendedikasikan hidupnya dalam dakwah ditengah-tengah masyarakat. Tetapi walaupun begitu, kita kembalikan semuanya kepada niat, jangan sampai hal tersebut menjadikan kita berbangga-bangga, sementara Allah SWT telah menegaskan semua itu dalam Al-Quran (Surat al-Qashash: 76) dijelaskan, Jangan kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri. 

Dea guru telah hadir dalam lintasan sejarah, menjadi bagian dari langkah-langkah nyata membangun masyarakat Sumbawa yang Islami. Dedikasi yang tinggi yang pernah diberikan sepatutnya dapat menjadi inspirasi buat kita untuk melangkahkan kaki diatas peta zaman. Umat Islam merupakan umat yang terbaik. Di dalam Alquran ditegaskan, Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (QS [3]: 110).

Semoga kita mampu menjadi umat yang terbaik di akhir zaman dalam arti yang sesungguhnya. Aamiin

Penulis : Roy Marhandra

Related posts

Peta Politik NTB : Tak Ada Lagi Kubu Suhaeli, Ahyar dan Ali BD

ArkiFM Friendly Radio

IPM SUMBAWA BARAT MELOMPAT KE LEVEL TINGGI

ArkiFM Friendly Radio

Maju Jalur Independen, Kenapa Tidak?

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment