ARKIFM NEWS

Diduga Lemahnya Pengamanan Kepolisian Picu Konflik Saat Demonstrasi

Foto: Intimidasi kelompok masyarakat tak dikenal kepada massa aksi. Tampak Aparat Kepolisian tidak menghalangi proses intimidasi kelompok tersebut. (Ist)

Sumbawa Barat. Radio Arki – Aksi Demonstrasi yang digelar oleh Gerakan Masyarakat Sumbawa Barat Mencari Keadilan (GMSBMK) di Kompleks KTC, siang tadi (13/8) dicoreng oleh sekelompok masyarakat tak dikenal.

Dahlan, Koordinator Umum Gerakan Masyarakat Sumbawa Barat Mencari Keadilan (GMSBMK) menuding, lemahnya pengamanan oleh aparat kepolisian Polres KSB dan Pol PP yang menjaga ketertiban berlangsungnya demonstrasi, memicu bebasnya terjadi intimidasi secara langsung terhadap massa aksi.

“Aparat ada, tapi kok seperti dibiarkan. Mereka (kepolisian,red) terkesan membiarkan kami berhadapan dengan kelompok masyarakat yang menghalangi kami masuk kompleks KTC,” ujar Dahlan.

Dahlan mengaku, pihaknya telah mengikuti prosedur dalam menyampaikan pendapat dimuka umum dengan memasukkan surat pemberitahuan. Harapannya, ada pengamanan yang dilakukan untuk menghindari konflik saat berdemonstrasi.

“Jadi aneh juga. Polisi melihat kami ‘diserang’ di gerbang KTC, tapi tidak berani menghalangi oknum kelompok masyarakat yang menggunakan cara cara premanisme mengusir kami,” cetus Dahlan.

Foto: Anggota aksi, Yuny Bourhany mendapatkan penyerangan kelompok tidak dikenal. (Ist)

Dahlan mengungkapkan, terjadinya insiden yang menimpa Yuni Burhany mestinya bisa diminimalisir oleh aparat Kepolisian, karena kejadian di gerbang KTC lebih dahulu terjadi sebelum insiden di halaman Graha Fitrah.

“Itu kan orang yang melakukan penyerangan orang yang sama. Tapi kok sampai bisa melakukan intimidasi, pengrusakan, bahkan kekerasan fisik, meski kemudian cepat diamankan oleh aparat. Di Videonya juga bahkan sampai ada upaya penarikan jilbab. Ini Pelecehan,” tegas Dahlan.

Ditemui terpisah, Kabag Ops Polres KSB yang memimpin pengamanan Demonstrasi, AKP Iwan Sugiyanto, SH membenarkan bahwa massa aksi telah memasukkan surat pemberitahuan aksi sebelum aksi digelar.

“Yaa ada pemberitahuan aksinya, makanya kita lakukan pengamanan sesuai prosedur. Cuma tadi tiba tiba muncul kelompok, saya tidak tahu dari kelompok mana. Datang dan tiba tiba situasinya bubar,” Aku Kabag Ops.

Disinggung tentang adanya potensi konflik sebelum aksi, Kabag OPS mengaku tidak mengetahui akan terjadi penyerangan terhadap massa aksi. “Ini spontan. Kita tidak tahu kelompok tersebut yang tiba tiba melakukan penyerangan,” tukasnya, singkat.

Seperti diketahui, massa aksi yang tergabung dalam GMSBMK mengangkat beberapa tuntutan, diantaranya mempertanyakan hasil riksus APD bekas yang dibagikan RSUD Asy Syifa’. Selain itu, massa aksi juga mempertanyakan masalah ketenagakerjaan, agraria, pemotongan dana gempa dan pemotongan penerima bansos lansia anggaran 2019 tahap keempat. Belum juga menyampaikan tuntutan di depan kantor bupati, massa aksi diserang kelompok masyarakat tak dikenal. (Enk. Radio Arki)

Related posts

Wah.. Terbukti Nodai Agama, Ahmad Musadeq Divonis 5 Tahun Penjara

Gugas Covid-19 Mataram Gelar Patroli Gabungan

ArkiFM Friendly Radio

Kisah Inspiratif  Prof Natsir, Guru Besar Unram yang Baru Dikukuhkan

ArkiFM Friendly Radio