NEWS

Dishub KSB Terus Maksimalkan Pemeliharaan PJU di 5.700 Titik

Foto: Proses normalisasi PJU. (Ist)

Sumbawa Barat. Radio Arki – Sebagai upaya memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat Sumbawa Barat, Dinas Perhubungan Kabupaten Sumbawa Barat (Dishub KSB), terus melakukan pemeliharaan Penerang Jalan Umum (PJU) sebanyak 5.700 titik dengan 218 Kwh yang tersebar di semua Kecamatan Se Sumbawa Barat.

“Pemeliharaan PJU sifatnya rutinias, dimana tim setiap hari keluar. Jika terdapat gangguan misalnya di Poto Tano, maka jalur dari Taliwang ke Poto Tano dilakukan pengecekan langsung,” ujar Kadishub KSB melalui Kabid Prasarana dan Keselamatan, Budi Sunarko, SE, belum lama ini.

Dijelaskan, ketika ada aduan terkait PJU yang mengalami kerusakan dilapangan atau PJU yang tidak menyala, kami langsung mengecek untuk segera diperbaiki. Jika aduan tersebut di atas jam 20.00, maka tim dari Dishub baru bisa mengecek ke lokasinya besok pagi, tapi jika aduan didapatkan sebelum jam 20.00, maka diusahakan malam itu menyala.

“Meski sudah ada jam batas maksimalnya tim untuk turun lapangan, kami juga tetap memberikan atensi khusus manakala terdapat kabel yang putus dan beresiko tinggi bagi. Karena ketika kabel putus, aliran listrik masih mengalir dan itu sangat berbahaya bagi keselamatan pengguna jalan. Jadi, jika ada yang demikian semua tim langsung turun dan segera kami lakukan perbaikan,” jelasnya.

Foto: Kabid Prasarana dan Keselamatan, Budi Sunarko, SE. (Ist)

Budi menjelaskan, factor usia kelengkapan PJU, musim hujan dan angin kencang berdampak pada kondisi jaringan dan kabel kabel. Kabel PJU yang sudah lama, harus segera diganti. Belum lagi ketika musim hujan dan angin kencang yang membuat terjadinya gesekan gesekan pada kabel sehingga ada yang terkelupas, bahkan sampai ada yang terputus. Belum lagi kerusakan pada panel panel, seperti kontaktor dan timer yang hanya bertahan maksimal setahun setengah.

“Meski dihadapkan dengan kodisi demikian, kami terus memaksimalkan pemeliharaan. Seperti kerusakan pada kontaktor dan timer, dimana kami langsung mengganti dengan peralatan cadangan,” tambahnya.

Ditengah upaya terus memaksimalkan pemeliharaan PJU, Budi mengakui bahwa banyak kendala teknis dilapangan yang membuat proses pemeliharaan sedikit terganggu. Seperti armada truck craine yang hanya satu unit. Terkadang truck tersebut tidak siap jalan atau mengalami kerusakan. Truck craine yang ada saat ini juga, kata Budi memiliki body yang cukup panjang. Kondisi tersebut juga membuat tim kewalahan melakukan perbaikan di gang gang sempit.

“Sebenarnya kami butuh truck craine satu lagi yang bodynya agak pendek. Yang ada saat ini agak panjang dan kami kesulitan ketika masuk ke gang gang. Memang ada rencana kami untuk membeli truck craine yang pendek. Sudah kami ajukan dan belum tersedia anggaran untuk itu, semoga ditahun berikutnya bisa terealisasi. Meski demikan, ditengah kondisi tersebut kami tetap memaksimalkan pelayanan,” ungkap Budi.

Kendala lainnya, sambung Budi yaitu, dimana diwaktu bersamaan terdapat dua wilayah yang jalurnya berbeda, seperti wilayah Kecamatan Maluk dan wilayah Kecamatan Brang Rea mengalami pemadaman pada PJU, sementara hari itu Dishub dituntut harus menyelesaikan dua duanya.

“Jadi kami ke Maluk dan baru kemudian ke Brang Rea untuk melakukan perbaikan. Tim kami bahkan sampai magrib baru balik ke kantor, belum lagi jika permintaan di hari libur seperti Sabtu dan Minggu, dimana kami dituntut untuk turun lapangan. Jadi kami turun, karena kami menyadari soal penerangan merupakan kebutuhan masyarakat yang harus segera terlayani,” ungkap Budi.

Budi juga mengimbau kepada masyarakat Sumbawa barat agar pro aktif menyampaikan informasi ketika terjadi sesuatu dilapangan. Karena terkadang ketika sehari atau dua hari tim tidak melewati jalur tertentu, kadang ada saja kondisi dilapangan yang memang harus segera ditindaklanjuti. Jadi bukan hanya soal lampu yang tidak menyala saja, lampu yang menyala di siang hari juga tetap jadi perhatian Dishub.

“Kadang ada lampu yang menyala disiang hari. Jadi ketika kami tidak melewati jalur tersebut sehari atau dua hari, ditambah lagi tidak ada aduan dari masyarakat, Ya lampu tersebut tetap menyala karena factor kerusakan pada timer. Nah, kondisi tersebut kami berharap masyarakat juga memberitahu kami. Karena jika terus dibiarkan, akan menyebabkan pembengkakan pada pembayaran pulsa listrik PJU tersebut,” tandasnya. (Enk. Radio Arki)

Related posts

Ratusan Warga Ambil Paksa Jenazah Positif Covid di RSUD Kota Mataram

ArkiFM Friendly Radio

Disnaker KSB Usulkan Rp 5,3 Milyar Untuk Normalisasi BLK

ArkiFM Friendly Radio

Belum Tentukan Arah Dukungan, PKPI NTB Lirik Track Record Balon Gubernur NTB

ArkiFM Friendly Radio