ARTIKEL

PPKM: Solusi atau Tirani!

Oleh: Agus Berani (Sekretaris Umum Persatuan Pemudah dan Mahasiswa Sumbawa Barat (PPM SB) – Jakarta)

“Tulisan ini sebagai refleksi kecil bahwa dunia, Indonesia, kita pernah melalui krisis sedemikian berat dan hidup harus tetap berlanjut. Kendati kita tahu bahwa kematian menggentayangi dalam rupa wabah, namun kehendak yang membuat kita sadar betapa dekat kita dengan kematian, dan betapa jauh kita dengan hidup.”

Pandemi dan PPKM

Hinga kini di akhir bulan Juli 2021, Covid 19 masih juga belum mereda, hidup semakin meradang, pemerintah terus berdendang. Sekarang kita dipaksa menghadapi Covid melalui kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yaitu Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). PPKM pertama sudah dilakukan terhitung dari tanggal 3-20 juli 2021, namun upaya tersebut belum maksimal sehinggal pemerintah kembali memberlakukan darurat PPKM sampai tanggal 26 juli 2021 mendatang. Bisa saja PPKM kembali diberlakukan sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

Tak lama, kebijakan ini banyak menuai pro dan kontra. Saling menyalahkan antara pemerintah dan masyarakat pun tak terelak. Entah siapa yang menyulut dan yang tersulut. Masyarakat kita dihadapkan dengan situasi sosial yang semakin kacau. Penulis tidak hendak menyalahkan sebagian atau seluruh pihak. Namun, perlu disadari bahwa memang masing-masing pihak secara elementer memiliki kehendaknya masing-masing.

Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan PPKM demi menghambat penyebaran virus yang begitu cepat. Langkah ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan PSBB yang telah dilakukan tahun lalu.

Hanya saja, bersama pihak-pihak berwajib, PPKM dijalankan begitu ketat. Toko-toko ditutup, warung dan tempat makan hanya bisa melayani pesan antar, dsb. Di sisi lain, pemerintah seolah menghindari term “karantina” untuk menghindari Undang-Undang (Nomor 6 Tahun 2018) darurat kesehatan serta segala kewajiban yang harus dipenuhi atas tuntutan Hukum yang berlaku.

Penyebaran virus yang begitu cepat juga dimungkinkan atas dasar masyarakat yang selama ini tidak cukup patuh terhadap protokol kesehatan.

Kita dapat melihat selama masa sebelum pengetatan terulang, orang-orang masih banyak berkumpul dalam satu ruangan tanpa masker, tidak menjaga jarak, bahkan sama sekali tidak menggunakan masker. Atau mungkin dengan statement sedikit kasar “Protokol kesehatan itu banya berlaku dalam gedung ‘mewah’ atau perusahaan besar, pertemuan pejabat, instansi pemerintah atau adanya penyidakkan oleh apparat.” Selebihnya tidak!

Kesadaran yang ada atas kesehatan di antara kita masih belum tumbuh dengan baik. Meski, dapat diapresiasi sebagian masyarakat lain juga mau bergotong royong menghadapi situasi pandemi ini supaya dapat mengadakan kehidupan bersama yang baik. Selama kebijakan PPKM diberlakukan, banyak efek yang seketika itu juga terasa, baik secara ekonomi, sosial, psikis, dsb.

Di sisi ekonomi misalnya, banyak terjadi pengurangan upah karena jam kerja yang dipotong, pengurangan karyawan dan pengangguran akibat kebijakan PPKM. Secara sosial kita menghindar dari pertemuan tatap muka dan interaksi secara langsung.

Secara psikis kita akan sangat drop ataupun kecemasan dan ketakutan karena kondisi yang begitu buruk dalam berbagai aspek. Kecemasan berlebihan itu muncul bukanlah tanpa sebab. Setiap hari orang disuguhi berita corona lewat beragam media. Lalu timbul rasa cemas. Informasi yang berlebihan telah menyerang psikologis masyarakat. Begitu pula di media sosial, konten Corona menguasai lini masa.

Tanpa disadari, cemas telah menghantui kehidupan masyarakat sekarang ini. Penularan rasa cemas berlebihan tampak lebih cepat dan masif dibandingkan apa yang dicemaskan. Reputasi corona lebih menakutkan dari Corona itu sendiri. Rasa takut sampai pada prasangka buruk mendahului fakta, akibatnya kesadaran rasionalitas hilang, panic buying dimana-mana, sensitifitas bertambah, kriminalitas meraja lela.

Konsekuensi semacam ini yang kemudian mengharuskan kita untuk tetap bertahan hidup bagaimana pun caranya. Harus tetap mencari uang supaya dapat melangsungkan hidup, menafkahi keluarga, atau walau hanya bisa untuk makan sehari-hari. Tenaga kesehatan harus tetap berjaga demi orang-orang yang sedang sakit juga tuntutan profesional, dsb.

Schopenhauer dan Kehendak Sebagai Dorongan Hidup.

Kondisi sedemikian parah. Penomena ini adalah tirani. Salah satu filsuf yang berbicara betapa mengerikannya dunia, dan kita yang selalu jatuh pada tirani adalah Arthur Schopenhauer (Filsuf Jerman abad 18). Arthur Schopenhauer berpandangan bahwa basis kehidupan manusia adalah yang menyusun unsur-unsur dalam diri manusia. Masing-masing dari kita perlu menyadari bahwa kita secara partikular didorong oleh kehendak. Kehendak yang memberi kita dorongan untuk bertahan hidup di situasi apapun. Kehendak yang memberi kita rasa serakah, dengki, atau sebaliknya, berbuat baik. Tidak ada yang bisa melampaui kehendak. Kehendak telah berubah menjadi kepentingan diri, baik itu egoisme individual maupun aktualisasi diri.

Kendati demikian, rasionalitas juga merupakan bagian dari hakikat manusia, namun sejatinya rasionalitas hanya terdapat pada luaran konsepsi metafisis atas manusia. Rasio manusia ditentukan oleh kehendaknya, karena kehendak bekerja di luar kesadaran, berbeda dengan rasio. Kita dapat berpikir sesuatu tapi kita tidak mungkin memikirkannya bila kita tidak menghendaki untuk memikirkannya. Kehendak, dalam hal ini, merupakan substansi dari keseluruhan hal-hal yang ada. Ia tidak saja merupakan pendorong aktivitas manusia, tetapi kehendak juga menjadi pendorong bagi gerak alam semesta dalam wujud kehendak dunia.

Kehendak kemudian menjadi daya hidup, “roh” pendorong, dalam dunia. Manusia di dalam dunia, tentu akan didorong oleh kehendak, juga segala hal yang ada di dalam dunia. Pengertian kehendak dalam hal ini sebagai kehendak untuk hidup, “daya hidup”, dan tidak ditempatkan sebagai kehendak yang partikular. Demikian, kehendak bisa dikatakan sebagai hakikat dari segala hal. Ia menjadi substansi dari kehidupan dan atasnya ia mengendalikan segala hal bagai arus yang terus mendorong.

Secara aktual, kita dapat melihat kehendak yang ada di dalam manusia melalui wujudnya sebagai hasrat seksual. Hasrat seksual ini adalah manifestasi kehendak untuk mendorong manusia menginginkan proses reproduksi/kawin supaya tetap dapat melanjutkan keturunan serta hidupnya. Lebih halus, orang sering kali menamainya cinta. Cinta ini lah manifestasi kehendak supaya manusia terdorong untuk melestarikan spesiesnya, menghindari kepunahan, menghindari kematian.

Bagaimana kemudian kehendak bisa disadari bila ia bekerja di luar kesadaran? Kehendak memberikan kita keinginan untuk bertindak/sebagai penggerak sehingga manusia mampu untuk bergerak dan berpikir. Kehendak sebagai penggerak elementer berkembang dari keadaan yang tak sadar menuju keadaan yang sadar melalui kemampuan berpikir manusia. Kehendak memberikan wujudnya dalam rupa fenomena melalui hal-hal di sekitar kita.

Dunia yang ada merupakan dunia fenomena yang terejawantah dari satu dasar utama yaitu kehendak. Kehendak menjelma menjadi berbagai hal dan wujud yang dapat kita pahami. Sialnya, kehendak tidak saja menjelma menjadi hasrat yang tunggal. Ia memiliki kawanan hasrat lain yang menuntut untuk dipenuhi. Secara positif, inilah yang membuat manusia memiliki daya hidup dalam kesehariannya. Secara negatif, hasrat itu akan terus muncul, dan menuntut. Ketika hasrat dipenuhi, ia akan muncul sebagai hasrat yang lain. Hasrat tidak akan pernah terpuaskan sedangkan manusia memiliki keterbatasan untuk memenuhi keinginannya. Di sinilah penderitaan muncul, di mana ketika hasrat yang belum terpenuhi, membuat kegelisahan dan memunculkan hasrat yang lain yang belum tentu dapat dipenuhi juga.

Maka, sepanjang kita sadar, sepanjang itu pula kita terus diperangkap oleh keinginan-keinginan yang tak pernah terpuaskan. Dari sini kita tak akan mungkin mencapai kebahagiaan dan kedamaian. Kita jatuh ke dalam tirani kehendak.

Antara Solusi ataukah Tirani dibalik PPKM?

Lantas, kehendak yang memberikan daya bagi manusia supaya ia terus memiliki hasrat. Hasrat ini berperan penting dalam hidup manusia. Kita diperlihatkan pada bagaimana kehendak yang terwujud dalam bentuk hasrat, menjadi sangat telihat dalam masa pandemi. Selama PPKM ini, kita disuguhkan pada berbagai fenomena yang mencerminkan hasrat dan kepentingan seseorang melalui perilakunya.

PPKM dilanggar karena bantuan sosial belum juga datang yang mengakibatkan orang-orang tetap bekerja dan abai pada PPKM. Di sisi lain bantuan sosial tidak kunjung hadir karena pemerintah masih menyiapkan dan melihat proyeksi keuangan serta kemungkinan terhadap keputusan yang diambil.

Belum lagi “aparat” yang bertindak sewenang-wenang. Menindak yang tidak mematuhi protokol, tidak mendengarkan seruan dan aturan pemerintah diperlakukan dengan kasar. Memang, penegakkan itu boleh, sah sah saja. Tapi tidak dengan kekerasan seperti yang terjadi di Gowa, Sulawesi Selatan beberapa waktu silam.

Selain itu banyak diantara kita yang mungkin terjangkit penyakit “panic buying”, sebagaimana yang terlihat dan tersebar diberbagi media sosial, mereka yang berebut susu di pusat perbelanjaan, vitamin, obat-obatan, juga para pedagang yang menjualnya dengan harga tinggi. Apa yang bisa lolos dari tirani kehendak?

Masing-masing memiliki kehendak dalam rupa kepentingan, hasrat, dan lain sebagainya, yang menuntut untuk selalu dipenuhi. Di sisi lain kita juga dapat menyadari bahwa alam bekerja dengan ‘memelihara Covid’ dengan alasan yang kita belum tahu.

Namun, yang pasti itu memberikan kita kehendak atas fenomena-fenomena yang terjadi hari-hari ini. Secara individual maupun komunal, kita akan selalu terperangkap untuk mencapai kepentingan diri kita. Tanpa sadar kita juga menciptakan penderitaan yang begitu hebat dan meluas, tak hanya bagi diri kita sendiri, tapi juga bagi orang lain.

Memang hidup adalah penderitaan yang berlarut-larut dan kita tidak mungkin bisa lepas dari jeratan penderitaan tersebut. Tentu selama kita masih didorong oleh hasrat dan tuntutan kehendak lainnya yang terus kita ikuti secara membabi buta. Kendati hidup adalah penderitaan, situasi pandemi ini merupakan penderitaan yang berkepanjangan, lantas kita tak dapat menerima hidup?

Tiap hari kita disuguhkan oleh kegaduhan yang terjadi di mana-mana selama PPKM, kesedihan terhadap orang-orang yang telah meninggal, kelaparan, kemiskinan, dll. Sejenak kita dapat menarik diri untuk merenung, bahwa menghadapi pandemi ini bukan tentang saya, anda, dia, mereka, masyarakat, aparat dan pemerintah secara personal melainkan tentang kita dan tanggung jawab bersama. Kesadaran untuk saling merangkul dan menguatkan. Kesadaran untuk berprilaku welas asih.

Kesadaran yang muncul setelahnya adalah kesadaran atas hidup bersama di mana kita semua sama-sama hidup dalam dunia yang kelam. Maka, kita tidak boleh melukai satu sama lain. Ketika kita melukai orang lain, sebenarnya kita melukai diri sendiri karena kita adalah satu dengan orang lain, dalam satu kekuatan energi yaitu “kehendak”. Welas asih menjadi pesan moral tersendiri dalam menghadapi dunia kehendak.

Sikap semacam ini juga terinspirasi dari cara hidup “asketis”, dengan menerima dan mengakui hidup yang penuh kesengsaraan dan penderitaan, mengatakan “Ya!” pada hidup.

PPKM ini menuntut kebersamaan, juga karena kita semua ada pada posisi yang sama berhadapan dengan Covid 19, hidup atau mati. Maka, memang sikap welas asih sangat diperlukan supaya kita bersama dapat menjalani hidup yang sudah sengsara dan sedemikian menderita ini secara bersama-sama.

Cara hidup asketis juga dapat diterapkan dalam diri supaya kita dapat meraih ketenangan di masa PPKM dan pandemi ini. Kita sama-sama tahu situasi pandemi ini begitu menggelisahkan dan kita perlu ketenangan agar kita setidaknya dapat merasakan kedamaian dan dapat menjalani hidup.

Related posts

UU Ciptaker, Berpotensi Menambah Kerusakan Lingkungan

ArkiFM Friendly Radio

Festival Taliwang (Pergumulan Islam dengan Budaya Lokal)

ArkiFM Friendly Radio

“New Normal” : Ancaman Baru Terhadap Hak Kesehatan Masyarakat Indonesia

ArkiFM Friendly Radio