LKK Mataram di Buka, Anda Yani : Tantangan Perempuan Lebih Berat

0

Mataram. Radio Arki – Latihan Khusus Kohati (LKK) Korps HMI Wati (Kohati) Mataram telah resmi di buka, di aula terbuka Tama Budaya (TB) NTB, pukul 19.00 wita. Pada acara pembukaan tersebut di rangkaikan dengan Milad Kohati Ke 53, Selasa (10/9).

Dalam Penyampaian Koordinator Forum Alumni Kohati (Forhati) NTB, Anda Yani menyatakan saat ini tantangan perempuan Indonesia kedepan jauh lebih menantang. Sebab bukan hanya soal dapur yang harus di urus perempuan, tapi lebih dari itu. Terbukti, ada banyak perwakilan gender yang mengisi ruang-ruang penting di berbagai sektor kehidupan.

“Kita bisa lihat keberadaan perempuan di era orde lama, orde baru sampai reformasi terpinggirkan. Tapi hari ini banyak yang menjadi bagian penting di semua sektor (sebut saja salah satunya di panggung politik. Red). Maka tantangan Kohati hari ini jauh lebih berat, tentu harus menyiapkan mental dan kesiapan diri lebih matang lagi, dengan progres zaman yang berkemajuan,”cetusnya. Artinya dirkursus dan wacana perempuan bisa terus di tingkatan.

Sementara, Ketua Umum Kohati Cabang Mataram, Nurul Huda dalam sambutannya menegaskan bahwa Dalam era keterbukaan saat ini, kader-kader HMI-wati harus tingkatkan semangat intelektual yang tinggi. Dengan demikian dapat mengibangi dunia yang serba globalisasi. Juga Kohati sebagai organisasi pengkaderan harus mampu mengemas isu keumatan dan kebangsaan. Di akui begitu banyak perempuan yang acuh atau mengalami krisis identitas. Disamping itu di harapankan menjadi bagian yang bermanfaat, akan lebih mengedepankan emansipasi sosial kemasyarakatan.

“Kita tidak hanya berkutat pada wilayah urusan rumah tangga (URT) semata. Kohati harus peka terhadap permasalahan-permasalahan yang khususnya terkait dengan keperempuanan terutama dalam kondisi sekarang. Setelah teman-teman mengikuti kegiatan formal ini, dapat di aplikasikan di masyarakat,”katanya dengan nada tegas.

Terakhir, Ketua Umum HMI Cabang Mataram, Andi Kurniawan menyampaikan bahwa LKK bukan hanya sebagai latihan formal semata, tetapi jauh dari itu harus ada proses pengembangan kualitas ilmu pengetahuan yang lebih baik. Sudah harus keluar dari cara berpikir yang mengganggap diri bahwa perempuan hadir hanya sebagai pelayan.

“Kalau dulu perempuan itu sedikit termajinalkan dari posisi apapun atau dengan kata lain mereka hanya jadi pelayan bagi laki-laki (Red). Tetapi jauh dari itu perempuan harus mampu hadir di tengah kebutuhan arus modernisasi dalam mengawal lembaran-lembaran perubahan dari setiap persoalan yang di alami bangsa hari ini,”pungkasnya. (M Arif. Radio Arki)

Leave A Reply