ARKIFM ARTIKEL NEWS

REFLEKSI HARI GURU: BUATLAH DIRIMU PANTAS DIPERHITUNGKAN

Hari ini tepatnya tanggal 25 November. Sekilas mungkin tidak ada yang istimewa, tetapi tahukah kita bahwa hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi instrumen pendidikan, yaitu Guru. Ya, hari ini adalah hari memperingati hari guru.

Tanpa sadar kita kembali berada di lembaran ke 25 bulan November Tahun 2018, Seluruh aktifitas kehidupan dalam tahun ini sudah mulai dievaluasi, direfleksi dan introspeksi untuk kemudian mempersiapkan rencana lebih baik di tahun akan datang. Demikian pula halnya dengan 25 November yang ditetapkan sebagai hari Guru Nasional yang secara kebetulan berada di hampir penghujung tahun, sehingga sangat wajar pula untuk dilakukan evaluasi dan refleksi kembali terhadap kinerja tahunan maupun kinerja harian nya.

Saya tersentak, sedih dan sedikit emosi ketika suatu saat ada orang tua yang sedang mencarikan pekerjaan untuk anaknya yang sudah tamat kuliah dan bergelar Sarjana Ekonomi. Karena sudah merasa terdesak dengan keinginan anaknya untuk segera bekerja menjadi pegawai, maka ia berspekulasi dengan kalimat seperti ini, “biarlah …kalau tidak dapat job di kantor tersebut (setelah menyebutkan nama instansi yang disasar), jadi guru-guru…. juga gak pa-palah…. asal ada kerjaan….. “,

Setelah membaca tulisan ini, mungkin pembaca sekalian, memiliki sikap yang sama…., sama dengan saya atau sama dengan bapak yang ada dalam tokoh dialog tersebut, saya tidak tahu…, yang pasti inilah salah satu contoh persepsi seseorang terhadap profesi guru yang cenderung menjadi pilihan kedua bahkan menjadi profesi yang terpaksa dijalaninya, di tengah maha besarnya ekspektasi bangsa ini pada program pendidikan yang mana tokoh sentralnya adalah guru. Mana mungkin pendidikan ini akan berjaya manakala tokoh utamanya adalah pemain yang terpaksa diangkat status menjadi bintang utama, sementara dia hanyalah sekedar figuran yang numpang lewat tanpa niat.

Sebuah fakta yang sungguh berbanding terbalik dengan ketika seorang kaisar jepang melontarkan pertanyaan pertama saat kota Nagasaki dan Hirosima baru saja diluluhlantahkan oleh BOM tentara sekutu pada Perdun II, bahwa guru menjadi satu-satunya harapan untuk Jepang bisa bangkit kembali, karenanya kaisar bertanya “ ada berapa guru yang masih tersisa”
Pertnyaannya…. dimana posisi kita sebagai guru hari ini…, apakah kita masih diharapkan atau kita sendiri tidak punya harapan pada profesi ini..?

Kembali saya merefrensi tentang jepang, sebuah buku yang berjudul Jepang Jempol di tulis oleh Ezra F. Vogel tahun 1982, pada halaman 92, saya membaca rahasia majunya bangsa jepang adalah dua karakter dasar yang menjadi kurikulum utama setiap lembaga pendidikan, baik pendidikan keluarga maupun pendidikan formal yakni: pertama, setiap generasi didoktrin untuk cinta dan bangga sebagai keturunan shinto penyembah matahari, dan yang kedua setiap generasi dididik untuk ringan mengakui kesalahan dan keleliruan sekecil apapun yang mereka perbuat dalam belajar dan bekerja.

Pembaca sekalian…, semangat ini mengajarkan saya secara pribadi maupun kita semua bahwa betapa pentingnya mencintai sesuatu yang kita miliki, keluarga, agama, termasuk di dalamnya adalah profesi kita sebagai guru. Mana mungkin kita akan profesional di bidangnya bila kita sendiri tidak suka sehingga menjalaninya pun sangat susah dan payah.

Berangkat dari rasa syukur yang mendalam yang sejatinya menjadi karakter dasar orang beriman, bahawa guru hari ini sangat berbeda jauh dengan guru di jaman dahulu. Hari ini ada banyak regulasi yang menjamin profesi guru, baik jaminan kesejahteraan maupun jaminan perlindungan hukum dalam bekerja. UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen jelas memberi rambu-rambu, ‘kalau anda ingin menjadi guru ini syaratnya, ini aturan mainnya dan lain sebagainya, seiring waktu berjalan atas dasar ekspektasi yang besar untuk kemajuan bangsa ini, dua tahun kemudian terbitlah Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No 18 Tahun 2007 tentang sertifikasi guru, ini loh… profesionalisme anda dihargai dengan insentif dan jaminan kesejahteraan yang cukup, bukan itu saja, dalam masa menjalani profesinya itu dan bercermin dari berbagai kasus hukum terbit lagi Permendikbud No 10 Tahun 2017 tentang Perlindungan Guru, bahwa dalam anda bekerja sebagai guru, regulasi ini melindungimu secara hukum, melindungi profesimu, melindungi keslematan dan kesehatan kerjamu, serta melindungi hak-hak intelektualmu.

Lalu apa lagi setelah satu dua tahun ini berjalan, setelah sekian jaminan yang di kita dapatkan…, sudahkah kita memberikan kontribusi yang signifikan bagi bangsa ini, terutama bagi generasi penerus kita…?.
Tanpa menafikkan prestasi guru secara personal atau sebagian, tapi nampaknya belum terlalu banyak prestasi yang pantas kita torehkan.

Data Ujian Nasional dari tahun ke tahun seperti berjalan di tempat, baik raihan nilai maupun pengembangan karakter peserta didik yang kita luluskan. Masih teringat pidato sambutan mantan Kepala LPMP NTB, H. Irfan di akhir tahun 2016 di aula LPMP NTB, beliau mengatakan bahwa: “ data UN NTB tahun 2016 dengan tingkat kelulusan tertinggi, integritas sedang, dan nilai UN terrendah pada rata-rata nasional”, data LKS SMK Nasional NTB yang menjadi tuan rumah saja hanya puas pada perolehan medali perunggu, sedangkan pengembangan karakter siswa pasca lulus ujian, baik potret nasional maupun lokal sungguh semakin miris dan sikap serta perilakunya semakin menyeramkan. Apa yang akan terjadi menjelang agenda Ujian Nasional yang akan datang..? sudah siapkah kita guru menorehkan yang lebih baik dari sebelumnya..?

Atas dasar itulah, melalui tulisan ini kami ingin menstressing diri sendiri dan rekan-rekan seprofesi, nampaknya kita harus berbenah bersama, saling mendukung dan menguatkan dalam komunitas, karena dengan komunitas profesi guru akan diperhitungkan secara profesional, dengan begitu pula guru akan bisa berbuat lebih banyak dan lebih besar lagi. berhentilah kita keluhkan segala rintangan, tapi hadapi tantang itu dengan kerja keras dan kebersamaan serta kekompakan yang semakin solid.

Jangan pula engkau sesali bila guru adalah lebihnya gula yang menyebabkan kopi terlalu manis, atau sedikitnya gula yang menyebabkan kopi terlalu pahit, tapi… mari kita cukup dan paskan gula dalam larutan kopi sekalipun nanti kopi yang akan mendapat pujian dan sanjungan sebagai kopi mantap…!

 

(Penulis : Nurul Jihad, S.Ag., M.pd adalah guru di SMKN Taliwang)

Related posts

Rehabilitasi Pasca Banjir, DPRD NTB Lobby Dana Pusat

ArkiFM Friendly Radio

HMI Cabang Mataram Protes Aparat Kepolisian dan Kebijakan Pusat

ArkiFM Friendly Radio

Proses Administrasi Kependudukan Kini Dipermudah

ArkiFM Friendly Radio

Leave a Comment